post image
Presiden Donald Trump/TIME
KOMENTAR

Mayoritas warga Amerika Serikat menilai keterlibatan militer negaranya bersama Israel dalam konflik melawan Iran sebagai tindakan yang tidak sepadan dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Hasil jajak pendapat nasional terbaru menunjukkan bahwa penolakan publik Amerika terhadap operasi militer di kawasan Timur Tengah tersebut kini mencapai angka tertinggi.

Berdasarkan survei yang dirilis oleh Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research, hampir 70 persen responden menyatakan perang melawan Iran tidak layak untuk diperjuangkan. Angka penolakan ini melonjak tajam dibandingkan survei serupa pada bulan-bulan sebelumnya, seiring meningkatnya dampak perang terhadap ekonomi dan stabilitas domestik.

Survei tersebut juga mencatat bahwa sekitar 71 persen responden menolak atau tidak menyetujui penanganan dan kebijakan luar negeri yang diambil oleh Presiden Donald Trump terkait konflik Iran. Sikap skeptis warga Amerika semakin menguat akibat ketidakpastian akhir dari kampanye militer yang telah berlangsung lama ini.

Ketidakpuasan publik kian dipicu oleh kekhawatiran dampak ekonomi langsung yang dirasakan masyarakat di dalam negeri. Lonjakan harga bahan bakar serta ancaman inflasi tinggi membuat warga Amerika semakin mempertanyakan relevansi perang tersebut di tengah krisis keterjangkauan biaya hidup.

Penilaian negatif terhadap strategi militer pemerintah juga melintasi garis partai politik. Meski basis pendukung Partai Demokrat menjadi penentang terbesar, sejumlah pemilih independen hingga anggota Partai Republik juga melontarkan kritik atas kurangnya kejelasan visi dan tujuan dari eskalasi militer ini.

Selain isu ekonomi, sebagian besar warga Amerika yang disurvei menilai bahwa operasi militer terhadap Iran tidak membuat posisi keamanan nasional AS menjadi lebih aman. Sebaliknya, mereka khawatir ketegangan regional ini justru meningkatkan risiko ancaman keamanan jangka panjang bagi kepentingan Amerika Serikat di dunia.

Merespons merosotnya angka keterpilihan dan popularitas tersebut, Presiden Donald Trump menyampaikan penolakannya terhadap hasil survei publik. Trump menuding lembaga-lembaga survei bersikap bias dan menegaskan bahwa klaim mengenai ketidakpuasan publik adalah informasi keliru.

Namun, penurunan dukungan publik yang drastis ini dinilai menjadi sinyal berbahaya bagi pemerintahan Trump. Kondisi politik domestik yang semakin memanas memberikan tekanan tambahan jelang pemilihan umum sela yang akan menentukan peta kekuatan di Kongres AS.

Oposisi dari Partai Demokrat di Kongres terus memanfaatkan sentimen penolakan perang ini untuk mendorong legislasi yang membatasi wewenang militer presiden. Mereka berargumen bahwa aksi militer tersebut dilancarkan tanpa strategi keluar (exit strategy) yang jelas dan tidak berlandaskan persetujuan tegas dari rakyat.

Hingga kini, lonjakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih dibayangi oleh gelombang skeptisisme publik di dalam negeri Amerika Serikat. Hasil jajak pendapat ini mempertegas jurang pemisah yang kian melebar antara kebijakan luar negeri Gedung Putih dan aspirasi mayoritas rakyatnya.


Karena Pro Palestina, Pengacara Yahudi Berusia 94 Tahun Akhirnya Ditangkap Polisi Inggris

Sebelumnya

Pentagon: Penarikan Pasukan AS dari Irak Telah Selesai

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia