Konflik bersenjata di Yaman kembali memasuki babak baru yang sarat ketegangan seiring langkah pemerintah resmi meningkatkan operasi ofensif guna membalikkan keuntungan teritorial kelompok Houthi. Di tengah eskalasi militer yang kian intensif, para pengamat dan petinggi militer menyadari satu faktor penentu yang selama ini menjadi kunci utama peta kekuatan di Yaman: dukungan dari jaringan kesukuan lokal (tribes).
Pertanyaan besar yang kini mengemuka adalah apakah faksi-faksi suku di berbagai wilayah strategis benar-benar akan merapat ke barisan pemerintah, atau justru memilih jalan aman dengan bersikap menunggu di tengah pusaran perang. Secara historis, aliansi suku di Yaman memegang pengaruh otonom yang sangat kuat dan sering kali menjadi penentu kemenangan di medan laga darat yang terjal dan kompleks.
Analis militer dan pengamat geopolitik regional menilai bahwa keterlibatan milisi suku tetap menjadi elemen yang tak tergantikan (indispensable) dalam setiap kampanye militer jangka panjang melawan Houthi. Namun, para ahli mengingatkan bahwa kontribusi mereka tidak boleh berjalan secara sporadis atau terisolasi seperti masa lalu.
Agar efektif secara taktis, pergerakan tempur suku-suku lokal harus diintegrasikan langsung ke dalam struktur komando formal negara serta koalisi pendukungnya. Tanpa koordinasi komando yang terpusat, kehadiran unsur suku dikhawatirkan hanya menjadi kekuatan tambahan yang rapuh di tengah modernisasi strategi pertempuran.
Di sisi lain, sikap yang ditunjukkan oleh berbagai kelompok suku saat ini sangat beragam dan dilandasi oleh pertimbangan yang pragmatis. Sejumlah laporan mengindikasikan bahwa tidak semua elemen suku yang tampak berpihak atau bertempur di bawah pengaruh Houthi melakukannya atas dasar loyalitas ideologis murni.
Faktor kebutuhan materi, tekanan keamanan, hingga pertimbangan bertahan hidup (survival) kerap menjadi alasan utama mengapa sebagian suku terpaksa mengakomodasi kehadiran Houthi di daerah mereka. Oleh karena itu, pergeseran loyalitas ini sangat cair dan sangat bergantung pada angin perubahan di medan perang.
Sejumlah tokoh masyarakat dan pemuka suku menyatakan bahwa komunitas lokal membutuhkan bukti nyata berupa kemenangan militer sebelum memutuskan untuk benar-benar menyeberang. Keberhasilan pasukan pemerintah merebut kembali wilayah-wilayah strategis—seperti area dataran tinggi di Taiz atau distrik penting di sekitar jalur logistik—akan menjadi sinyal psikologis yang kuat.
"Suatu kemajuan nyata dari pemerintah di medan laga akan meyakinkan sebagian suku bahwa Houthi benar-benar mulai kehilangan pijakan," ungkap salah satu sumber tribal terkemuka. Begitu momentum kemenangan tersebut terlihat nyata di depan mata, kelompok suku yang selama ini memilih netral atau tertekan akan merasa lebih percaya diri untuk berbalik melawan Houthi.
Kendati demikian, tantangan di lapangan tidaklah kecil, mengingat eskalasi konflik telah memicu krisis kemanusiaan yang parah dengan ratusan ribu warga sipil terpaksa mengungsi akibat terjebak pertempuran. Situasi ini menuntut pemerintah Yaman untuk tidak hanya fokus pada pendekatan militer semata, melainkan juga jaminan perlindungan dan stabilitas ekonomi bagi masyarakat di wilayah yang berhasil direbut kembali.
Pada akhirnya, keberhasilan strategi pemerintah untuk merangkul kaum suku akan menjadi penentu krusial bagi masa depan peta politik Yaman. Jika konsolidasi antara negara, koalisi internasional, dan kekuatan akar rumput suku ini berhasil disatukan dalam komando yang solid, dominasi Houthi di atas kertas dapat secara bertahap dipatahkan.



KOMENTAR ANDA