post image
Ibrahim Mossallam, pilot United Airlines yang diskorsing karena berkomentar tidak pantas mengenai serangan Hamas ke Israel.
KOMENTAR

United Airlines kembali menjatuhkan sanksi skorsing terhadap salah satu pilotnya, Ibrahim Mossallam, menyusul kembali mencuatnya unggahan media sosial lama yang memuji serangan 7 Oktober di Israel. Keputusan ini diambil maskapai setelah kontroversi tersebut kembali menjadi sorotan publik dan memicu perdebatan luas di kalangan pengamat penerbangan.

Dalam pernyataan terbarunya kepada Simple Flying, pihak maskapai mengonfirmasi bahwa mereka telah memberhentikan pilot tersebut dari tugas penerbangan. "Kami telah menarik pilot ini dari layanan sambil menunggu tinjauan yang sedang berjalan," ujar juru bicara United Airlines, menegaskan status penangguhan tersebut.

Kasus ini bermula pada akhir tahun 2023 ketika unggahan media sosial Mossallam yang merespons serangan Hamas terhadap Israel beredar luas. Saat itu, ia menyebut serangan tersebut sebagai bentuk perlawanan dan memicu gelombang kecaman keras dari berbagai pihak.

Menghadapi tekanan publik yang masif pada akhir 2023 lalu, United Airlines sempat mengambil tindakan tegas dengan langsung merumھorkannya. Maskapai ketika itu menyatakan bahwa sang pilot telah dibebastugaskan dengan tetap menerima gaji sementara investigasi internal dilangsungkan.

Kendati demikian, penanganan kasus tersebut sempat menuai tanda tanya besar dari publik dan kalangan internal industri penerbangan. Pasalnya, setelah sempat diskors singkat, sang pilot diam-diam diizinkan kembali mengoperasikan penerbangan komersial tanpa adanya penjelasan transparan kepada publik mengenai hasil investigasi maskapai.

Isu kembalinya Mossallam ke kokpit kembali memanas setelah berbagai laporan dan media menyoroti fakta bahwa ia masih aktif menerbangkan pesawat. Selain itu, latar belakangnya sebagai Wakil Presiden Dewan Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) wilayah New York turut membuat pandangan politiknya semakin disorot di luar komunitas aviasi.

Kembalinya isu ini memicu kekhawatiran dari para penumpang serta kalangan profesional penerbangan terkait standar keselamatan psikologis dan penilaian risiko pilot. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana seorang kru penerbangan yang secara terbuka membenarkan tindakan kekerasan dapat dipercaya memegang kendali penuh atas keselamatan ratusan penumpang di udara.

Di sisi lain, dinamika internal maskapai dan serikat pekerja juga menjadi sorotan dalam menangani kasus sensitif seperti ini. Sumber-sumber industri menyebutkan bahwa penanganan kasus disipliner melibatkan pertimbangan regulasi ketenagakerjaan serta posisi dari serikat pilot yang mewakili para awak kokpit.

Hingga saat ini, pihak United Airlines belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai sejauh mana investigasi lanjutan ini akan berlangsung. Keputusan skorsing terbaru ini menjadi langkah pertama maskapai dalam hampir tiga tahun terakhir untuk merespons kembali desakan publik terkait kontroversi tersebut.


Kapten Machchhar: Saya Tidak Boleh Membiarkan Semua Orang Mati

Sebelumnya

Garuda Indonesia Diakui Punya Kru Kabin Terbaik Dunia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Air Crew