post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Tetapi jika Gibran bertahan?

Sebaliknya, apabila Gibran memilih bertahan, tantangan terbesarnya adalah mengelola legitimasi politik.

Ia akan menghadapi tuntutan transparansi dan penjelasan publik yang lebih besar. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik politik yang mengganggu agenda pemerintahan.

Di era media sosial, krisis legitimasi memiliki karakter berbeda. Satu keputusan hukum dapat menghasilkan ribuan potongan video, meme, komentar, dan narasi yang bergerak jauh lebih cepat daripada klarifikasi institusional.

Karena itu, krisis hukum dapat berubah menjadi krisis komunikasi, krisis komunikasi dapat berkembang menjadi krisis kepercayaan dan krisis kepercayaan dapat menjadi krisis politik.

Jangan biarkan masyarakat terbelah menjadi dua kubu

Implikasi sosial yang paling perlu diwaspadai adalah polarisasi.

Jika persoalan Gibran dipersepsikan sebagai pertarungan antara “pendukung” dan “penentang”, maka substansi mengenai kepastian hukum dapat tenggelam oleh perang identitas politik.

Masyarakat akhirnya tidak lagi memperdebatkan apakah prosedur pencalonan dan verifikasi telah benar, melainkan sibuk mempertahankan kelompok politik masing-masing.

Indonesia memiliki pengalaman panjang bahwa konflik politik yang dibiarkan menjadi konflik identitas dapat meninggalkan luka sosial jauh lebih panjang daripada masa kampanye itu sendiri.

Karena itu, persoalan Gibran seharusnya ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar yaitu bagaimana memastikan bahwa hukum bekerja, lembaga negara menjalankan kewenangannya, dan pergantian atau keberlanjutan kekuasaan berlangsung melalui mekanisme konstitusional.

Pada akhirnya, persoalan Gibran bukan hanya tentang seorang Wakil Presiden. Ia adalah ujian bagi kedewasaan demokrasi Indonesia.

Apakah tekanan politik dapat disalurkan melalui mekanisme konstitusional? Apakah kritik dapat tetap keras tanpa berubah menjadi delegitimasi institusi? Dan apakah pemerintah mampu menjaga stabilitas tanpa mengorbankan prinsip akuntabilitas?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar apakah Gibran akan turun atau tetap berada di Istana.

Sebab dalam demokrasi, yang harus dipertahankan bukan hanya siapa yang memegang jabatan, tetapi juga kepercayaan publik bahwa jabatan tersebut diperoleh, dijalankan, dan bila harus berakhir ditinggalkan melalui aturan yang sama bagi semua orang.


Desakan Gibran Mundur Terus Menguat

Sebelumnya

Perkuat Infrastruktur Organisasi, MES Resmikan Kantor Baru

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional