Maskapai penerbangan nasional Arab Saudi, Saudia, telah mengonfirmasi kematian salah seorang pilot andalannya dalam insiden serangan yang dilakukan Houthi ke Bandara Internasional King Khalid yang terletak di ibu kota Arab Saudi, Riyadh.
Pilot yang menjadi korban jiwa dalam peristiwa tragis ini diidentifikasi sebagai Kapten Hamoud bin Ali Al-Kalthami, seorang penerbang berpengalaman yang mendedikasikan kariernya di maskapai nasional tersebut.
Pihak maskapai Saudia menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kepergian sang kapten, menyebutnya sebagai "martir" yang kehilangan nyawanya akibat situasi darurat yang pecah di area bandara.
Meski demikian, dalam pernyataan awal yang dirilis kepada publik dan media massa, pihak manajemen Saudia belum merinci secara komprehensif kronologi detail mengenai bagaimana peristiwa tersebut merenggut nyawa sang pilot.
Insiden mematikan ini terjadi di tengah gelombang serangan rudal dan drone yang secara terbuka diklaim oleh gerakan Houthi yang berbasis di Yaman terhadap sejumlah infrastruktur vital di wilayah Arab Saudi.
Menurut laporan pihak berwenang, kelompok Houthi menargetkan kompleks Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dengan menggunakan sejumlah proyektil berupa rudal balistik.
Akibat hantaman dan gelombang kejut dari serangan tersebut, sebuah pesawat milik maskapai Saudia yang sedang terparkir di landasan tarmac mengalami kerusakan parah akibat lalapan api.
Maskapai Saudia mengonfirmasi bahwa terdapat satu unit pesawat mereka yang terkena dampak langsung dari serangan misil tersebut, meskipun dipastikan tidak ada penumpang di dalamnya saat insiden terjadi.
Di tengah kekacauan yang sempat melanda kawasan bandara, pihak otoritas penerbangan sipil Arab Saudi langsung bergerak cepat untuk mengamankan lokasi demi mencegah risiko susulan.
Berkat kesigapan tim darurat dan otoritas keamanan bandara, operasional penerbangan di Bandara Internasional King Khalid dilaporkan berhasil pulih dan dibuka kembali pada pukul 18.00 waktu setempat di hari yang sama.
Serangan di Riyadh ini bukanlah insiden terisolasi, mengingat awal pekan ini otoritas penerbangan sipil Arab Saudi juga melaporkan serangkaian serangan serupa yang menghantam Bandara King Khalid dan Bandara Abha.
Rentetan serangan udara tersebut sebelumnya telah memakan korban jiwa dari berbagai kewarganegaraan, termasuk seorang warga negara Mesir dan seorang warga negara Aljazair yang tewas di Abha.
Selain itu, seorang warga negara Sudan juga dilaporkan tewas di Riyadh akibat dampak hantaman serangan, sementara puluhan warga sipil lainnya mengalami luka-luka ringan hingga berat.
Pasukan pertahanan udara Arab Saudi menyatakan bahwa mereka telah berhasil mencegat dan menghancurkan sebagian dari rudal-rudal yang masuk sebelum mencapai target vital utama mereka.
Kendati demikian, serpihan dari rudal yang berhasil dicegat dilaporkan sempat jatuh di beberapa area permukiman dan fasilitas umum, termasuk merusak sebuah taman kanak-kanak serta kompleks medis di Riyadh.
Menyusul peningkatan ancaman keamanan dan gangguan operasional penerbangan yang signifikan ini, sejumlah maskapai internasional terkemuka memutuskan untuk mengambil tindakan pencegahan.
Berbagai laporan menyebutkan bahwa maskapai besar seperti Lufthansa dan Indian Airlines, serta beberapa operator penerbangan global lainnya, untuk sementara waktu menangguhkan penerbangan mereka menuju Riyadh.
Situasi keamanan regional yang kian memanas ini juga memicu reaksi dari berbagai negara sekutu, di mana pemerintah Britania Raya (UK) langsung mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya untuk menghindari lima wilayah di Arab Saudi.
Pemerintah Arab Saudi menegaskan komitmennya untuk terus melindungi keselamatan warga negara serta infrastruktur vital nasional dari segala bentuk ancaman militer eksternal di tengah ketegangan yang terus berlanjut.



KOMENTAR ANDA