Wakil Presiden Republik Bolivarian Venezuela, Delcy Rodriguez, mengkonfirmasi penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu dinihari, 3 Januari 2026, waktu setempat.
Maduro dan Flores diculik pasukan Amerika Serikat yang menggunakan dalih memberantas penyebaran narkotika dari Venezuela ke Amerika Serikat.
Dalam keterangannya, Rodriguez menuntut agar pemerintah AS memberikan bukti bahwa Presiden Maduro dan istrinya masih hidup.
Demikian disampaikan Duta Besar Venezuela di Jakarta, Enrique Antonio, dalam keterangan kepada Zona Terbang, Sabtu malam, 3 Januari 2026.
Antonio juga mengatakan, sampai saat ini belum diperoleh informasi ke mana pasukan AS membawa Maduro.
Selain pernyata Wapres Rodiguez, Kementerian Luar Negeri Venezuela juga mengeluarkan pernyataan yang mengecam agresi militer yang dilakukan AS terhadap wilayah dan penduduk Venezuela di wilayah sipil dan militer kota Caracas, ibu kota Republik, dan negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira.
Tindakan ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya Pasal 1 dan 2, yang menjamin penghormatan terhadap kedaulatan, kesetaraan hukum negara, dan larangan penggunaan kekerasan. Agresi tersebut mengancam perdamaian dan stabilitas internasional, khususnya di Amerika Latin dan Karibia, dan sangat membahayakan nyawa jutaan orang.
"Tujuan serangan ini tidak lain adalah untuk merebut sumber daya strategis Venezuela, khususnya minyak dan mineralnya, dengan upaya untuk secara paksa menghancurkan kemerdekaan politik negara. Mereka tidak akan berhasil. Setelah lebih dari dua ratus tahun merdeka, rakyat dan pemerintah sah mereka tetap teguh dalam membela kedaulatan dan Hak yang tak dapat dicabut untuk menentukan nasib mereka sendiri," tulis Kemlu Venezuela.
Agresi AS ini untuk memaksakan perang kolonial guna menghancurkan bentuk pemerintahan republik dan memaksa "perubahan rezim," dalam aliansi dengan oligarki fasis, akan gagal seperti semua upaya sebelumnya.
Kemlu Venezuela menambahkan, sejak 1811, Venezuela telah menghadapi dan mengalahkan kolonial. Pada tahun 1902, tulis Kemlu dalam keterangan itu lagi, kekuatan asing membombardir pantai Venezuela, Presiden Cipriano Castro menyatakan: "Kaki lancang orang asing telah menodai tanah suci Tanah Air."
"Hari ini, dengan semangat Bolivar, Miranda, dan para pembebas kita, rakyat Venezuela bangkit kembali untuk membela kemerdekaan mereka dari agresi imperialis," demikian Kemlu Venezuela.


KOMENTAR ANDA