post image
Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mendampingi Presiden Donald Trump dalam jumpa pers di Mar-a-Lago, untuk menjelaskan Operasi Absolute Resolve yang menangkap Nicolas Maduro.
KOMENTAR

Operasi militer yang dilancarkan AS untuk menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026, berlangsung dengan sangat singkat. 

Ketika berbicara di kediamannya di Mar-a-Lago dalam jumpa pers tak lama setelah penangkapan itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak ada tentara Amerika yang tewas dalam Operasi Absolute Resolve.

Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, dalam kesempatan yang sama mengatakan, satu helikopter pasukan AS sempat ditembak, namun dapat kembali terbang. 

Jenderal Dan Caine mengatakan, sekitar 150 pesawat dari 20 pangkalan AS membombardir target strategis di Venezuela untuk membuka jalur bagi pasukan khusus.

Adapun serbuan darat berlangsung sekitar pukul 01.00 dini hari. Pasukan khusus Delta Force mengepung Istana Miraflores di pusat kota Caracas. 

Setelah terlibat baku tembak dengan pengawal kepresidenan, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, berhasil ditundukkan.

Sekitar pukul 03.29 dini hari, pasukan AS menarik diri dari Caracas menuju kapal serbu amfibi USS Iwo Jima yang siap siaga di Laut Karibia.

Bagaimana dengan korban jiwa di pihak Venezuela?

Duta Besar Venezuela di Jakarta, Enrique Antonio, kepada Zona Terbang mengatakan, sejauh ini 40 orang dilaporkan tewas. Korban tewas ini berasal dari kelompok militer dan sipil. 

“Phak yang berwenang masih melakukan pemeriksaan di kawasan yang dibom untuk memverifikasi jumlah korban lebih lanjut,” ujarnya. 


Ini Poin Penting Dokumen “Menuju Era Keemasan Baru bagi Aliansi AS-Indonesia”

Sebelumnya

Gara-gara Epstein’s File, Andrew Jadi Keluarga Kerajaan Inggris Pertama yang Ditangkap Polisi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Politik Global