post image
Presiden Venezuela Nicolas Maduro
KOMENTAR

Kapal-kapal tanker itu menjadi bangkai besi terapung. Mesinnya hidup, tapi tak bisa bergerak. Asuransi maritim dari London diputus otomatis. Biaya sandar pelabuhan ditolak.

Logistik Venezuela dicekik sampai biru. Tanpa bensin, tank tidak jalan. Tanpa uang, jenderal tidak setia.

Maduro jatuh bukan karena kalah perang. Ia jatuh karena "dompet"-nya dimatikan dari jarak 4.000 kilometer.

"Lawfare": Perang Gaya Baru

Yang bikin saya merinding bukan pesawatnya. Tapi penumpangnya. Ada agen FBI Hostage Rescue Team (HRT).

Kenapa bawa polisi? Ini cerdiknya. Liciknya. Amerika ingin membingkai ini bukan sebagai "Invasi Militer" (itu melanggar PBB).

Mereka membingkainya sebagai "Penegakan Hukum" (menangkap buronan narkoba). Konsep kedaulatan negara (Westphalian Sovereignty) resmi jadi sampah. Batas negara dianggap tidak ada. Hukum Amerika berlaku di seluruh dunia. Ekstrateritorial.

Kalau mereka mau ambil orang di Jakarta, di Moskow, di Caracas, mereka pakai dalih "surat perintah penangkapan". Ini namanya Lawfare. Perang menggunakan hukum sebagai senjata.

Puing-Puing Geopolitik

Kasihan Rusia. Vladimir Putin pasti sedang minum vodka sambil sakit kepala.

Venezuela itu "kapal induk daratan" Rusia di Amerika Latin. Tempat parkir pesawat pembom nuklir Tu-160 Blackjack.

Investasi Rosneft miliaran dolar di sana. Dalam satu malam, aset itu hangus.
Rusia kehilangan pijakan strategisnya. Tanpa sempat menarik pelatuk.

China juga sama. Utang Venezuela ke Beijing mungkin tak akan pernah kembali.

Alarm untuk Kita

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Membaca berita Caracas ini rasanya getir. Pahit. Kita punya Nikel. Kita punya Laut. Kita seksi.

Tapi lihat diri kita di cermin. Radar kita? Masih banyak yang bolong. Sistem bank kita? Masih numpang jalur pipa SWIFT punya Barat.

Data kita? Masih di cloud asing. Operasi Caracas mengajarkan satu hal: Kedaulatan tanpa teknologi itu omong kosong.

Diplomasi tanpa otot siber itu cuma puisi cengeng. Jika besok kita dianggap "nakal" entah tiba-tiba karena hilirisasi atau karena vokal di PBB, siapkah kita?

Siapkah jika tombol "OFF" ditekan dari Washington? Siapkah jika bank kita offline dan pesawat tempur asing sudah ada di atas Monas tanpa terdeteksi? Di meja makan raksasa dunia hari ini, pilihannya cuma dua.

Anda duduk memegang garpu sebagai pemain. Atau Anda telanjang di atas piring sebagai menu santapan.

Caracas sudah jadi menu. Semoga kita lekas bangun. Sebelum ikut dimakan.


Maduro Pernah Dapat Jam Tangan dari Maradona

Sebelumnya

Sidang Dewan Keamanan PBB tentang Maduro, Kecaman Meluas, Ada Nuansa Sikap Dunia Terbelah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Politik Global