Lalu mengutip Sun Tzu, dia berkata, bila musuh Anda tidur, ganggu. Bila dia lari, kejar. Nah, pertanyaannya kemudian, bagaimana bila dia mengejar kita? Ya, Anda yang lari.
Tetapi pesannya apa? Jangan ganggu musuh yang tidur kalau tidak bisa memastikan bahwa dialah yang nanti akan lari. Jadi, kalau kata orang Amerika biarkan anjing tidur, tidur. Let’s a sleeping dog sleeps.
Juga perlu kita perhatikan tentang definisi perdamaian di antara dua perang. Insya Allah perdamaian akan panjang manakala pihak-pihak yang bertikai memiliki kekuatan yang seimbang. Tetapi bila ada yang powerful dan powerless, maka perdamaian akan sebentar.
Dinamika baru yang diciptakan oleh Donald Trump ini dengan sendirinya mendorong kelahiran kubu-kubu baru, kutub-kutub baru.
Belajar dari Perang Dingin, kita melihat tidak ada perang konvensional. Perang Dingin berakhir karena ada pihak yang collapse.
Kalau kita menggunakan pendekatan realisme struktural yang didalilkan John Mearsheimer bahwa saat ini ada 3 kubu, AS, Tiongkok, dan Rusia, ya bagus. Kalau bisa ada 5, 6, atau 8. Untung-untung Indonesia bisa menjadi salah satu kubu.
Sehingga dari perspektif ini kita melihat bahwa persenjataan adalah instrumen untuk memastikan perdamaian terjaga. Civis pacem para bellum.
Artikel ini diambil dari closing statement Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, pada Focus GREAT Discussion bertema “Amerika Era Donald Trump dan Gejolak Geopolitik Multiblok di Ambang Perang” di Kantor GREAT Institute di Jakarta Selatan, Jumat, 30 Januari 2026.


KOMENTAR ANDA