post image
Dari kiri ke kanan: Ketua Umum JMSI Dr. Teguh Santosa, Guru Besar Fakultas Ilmu Administrasi UI dan mantan Direktur Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Prof. Dr. Martani Huseini, Guru Besar Politeknik AUP Jakarta Prof. Dr. Maman Hermawan, serta Dr
KOMENTAR

Potensi ekonomi biru Indonesia yang besar hingga kini belum sepenuhnya tergali dan dimanfaatkan secara optimal, khususnya di wilayah pesisir, kepulauan, dan kawasan perbatasan. Kesenjangan antara kebijakan nasional dan implementasi di daerah masih menjadi tantangan utama dalam mendorong ekonomi biru sebagai sumber pertumbuhan dan kesejahteraan.

Dalam rangka memperluas pemahaman publik terhadap arah pembangunan kelautan dan wilayah pesisir Indonesia, Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat, Beyond Borders Indonesia  serta Pemda Kabupaten Maluku Tenggara menggelar Dialog Strategis Nasional bertajuk Ekonomi Biru Indonesia: Menjembatani Kebijakan Nasional dengan Implementasi Daerah.

Kegiatan ini diselenggarakan di Kampus Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Sahid Sudirman Residence Lantai 5, Jalan Jenderal Sudirman No. 84, Jakarta, pada Kamis, 15 Januari 2026.

Forum ini menghadirkan dialog dan diskusi bersama para pakar dari berbagai bidang, antara lain kebijakan publik, teknologi perikanan, komunikasi, dan geopolitik, untuk membahas bagaimana ekonomi biru dapat menjadi motor pertumbuhan dan kesejahteraan di wilayah pesisir, kepulauan, dan kawasan perbatasan Indonesia.

Kegiatan diikuti oleh akademisi serta mahasiswa dari beberapa universitas antara lain Universitas Sahid Jakarta dan  Universitas Ibnu Chaldun Jakarta  serta jurnalis  dan anggota JMSI.

Sejumlah narasumber yang hadir di antaranya Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun sebagai pemantik diskusi, Prof. Dr. Martani Huseini, Guru Besar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia dan mantan Direktur Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Maman Hermawan, Guru Besar Politeknik AUP Jakarta, serta Dr Teguh Santosa, pakar hubungan internasional dan geopolitik sekaligus Ketua Umum JMSI Pusat.

Merespons tantangan pengembangan ekonomi biru tersebut, Ketua Umum JMSI Pusat Dr Teguh Santosa menegaskan, JMSI memposisikan dialog ini sebagai ruang pertemuan berbagai perspektif daerah dengan arah pembangunan nasional. Dialog ini berangkat dari keyakinan bahwa masa depan Indonesia dibangun dari suara daerah, di mana cerita, tantangan, dan peluang dari wilayah pesisir, pulau-pulau terluar, serta kawasan perbatasan perlu dirangkai menjadi narasi pembangunan nasional yang utuh dan berkelanjutan.

Dalam forum ini, lanjut dia, JMSI menempatkan media daerah sebagai aktor strategis yang tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai kurator dan penguat narasi pembangunan berbasis daerah. Media daerah dipandang sebagai kekuatan yang mampu mengubah realitas lokal menjadi bagian dari agenda nasional.

“JMSI hadir sebagai penghubung antara kebijakan nasional dan realitas di daerah, khususnya dalam mendorong pemahaman publik serta pengawalan implementasi ekonomi biru di tingkat lokal. Peran ini dijalankan melalui penguatan narasi media daerah, distribusi konten lintas provinsi, serta penjagaan standar etika dan profesionalisme pers,” paparnya.

Dialog Strategis Nasional 2026 ini terbuka bagi masyarakat, komunitas, pelaku usaha, akademisi, media, dan pemerhati pembangunan kelautan dan wilayah pesisir. Melalui forum ini, JMSI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran media daerah sebagai jembatan antara kebijakan nasional dan aspirasi daerah, sekaligus sebagai pilar penting dalam pengembangan ekonomi biru Indonesia.

Kegiatan ini didukung oleh Universitas Sahid, JMSI, Beyond Borders Indonesia, Invest in Islands, One Village One Innovation, serta McDonald’s Indonesia. 


Maluku Tenggara Curi Perhatian di Timur Indonesia

Sebelumnya

Kecelakaan Wisata 2025, Sektor Pariwisata Nasional Perlu Direformasi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Destinasi