post image
Jenderal Zhang Youxia dan Presiden Xi Jinping
KOMENTAR

Penangkapan Jenderal  Zhang Youxia mengejutkan masyarakat dunia. Zhang bukan jenderal biasa. Dia adalah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Partai Komunis Tiongkok, sebuah badan penting dalam pengawasan militer di Tiongkok. 

Selain Jenderal Zhang, juga ditangkap Jenderal Liu Zhenli, Kepala Staf Gabungan Komisi Militer Pusat. 

Menurut seorang penulis berdarah Tiongkok yang tinggal di Kanada, Sheng Xue, kedua jenderal penting di tubuh militer Tiongkok ini berencana menggulingkan Presiden Xi Jinping.

Mereka merancang operasi penangkapan pada malam hari tanggal 18 Januari 2026 saat Presiden Xi berada di Hotel Jingxi, di barat Beijing. 

Tapi, cerita Sheng Xue dalam unggahannya di X, rencana itu bocor dua jam sebelum kudeta. 

“Xi berada di Hotel Jingxi pada hari itu. Mereka (Jenderal Zhang dan Jenderal Liu) percaya akan lebih mudah menangkapnya di sana, karena Xi sering menginap di Hotel Jingxi dan kemudian pindah ke Zhongnanhai atau lokasi lain,” tulis Sheng menirukan sumber yang bercerita kepadanya sehari setelah penangkapan Jenderal Zhang dan Jenderal Liu.

“Ia (Presiden Xi) jarang tinggal di satu tempat selama dua malam berturut-turut. Spekulasi daring kemudian menunjukkan bahwa Xi sengaja menggunakan ini sebagai umpan untuk memancing Zhang Youxia keluar—dan interpretasi itu sebagian benar,” sambungnya.

Setelah menerima informasi rencana kudeta, Xi segera meninggalkan Hotel Jingxi dan diam-diam mengatur operasi penangkapan balasan.

Jenderal Zhang Youxia tidak mengetahui bahwa informasi tersebut telah bocor kepada Xi dan melanjutkan rencana, mengirimkan personel pendahulu.

Baku tembak terjadi di Hotel Jingxi antara orang-orang Zhang, yang telah tiba, dan pasukan yang diatur oleh Xi. Sembilan pengawal pribadi Xi tewas, sementara puluhan pengikut Jendera Zhang disebutkan tewas. 

Konon upaya kudeta ini dipicu ketidaksetujuan mereka pada langkah politik Xi Jinping yang beberapa waktu belakangan ini melalukan pembersihan besar-besaran di tubuh militer Tiongkok. 

Pembersihan yang dilakukian Xi Jinping ini mengingatkan masyarakat pada hal sama yang dilakukan Mao Zedong. Mao yang ingin menjadikan Rusia sebagai kiblat Tiongkok pada era 1960an itu mengambil tindakan keras dan tegas pada siapapun yang menghalangi atau sekadar mengkritik Revolusi Kebudayaan dan program Lompatan Jauh ke Depan. 

Nasib naas dialami Menteri Pertahanan Jenderal Peng Dehuai. Ketika Mao meminta pendapat kepadanya, Jenderal Peng menulis surat yang mengkritik ambisi Mao. 

Mao awalnya tampak tenang, tetapi pada pertemuan pleno tanggal 23 Juli, ia tiba-tiba melancarkan serangan balik dengan pidato panjang, menuduh surat Peng sebagai serangan terhadap Partai.


Ternyata Netanyahu Tolak Presiden Israel Hadiri Peluncuran ‘Board of Peace’

Sebelumnya

KTT ‘Amerika Kita’ di Kolombia Rumuskan Sikap Hadapi Doktrin Monroe AS

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Politik Global