post image
Peresmian Tugu Jong Sumatranen Bond tahun 1919
KOMENTAR

Bagi para pemuda JSB, persatuan yang sejati justru berakar pada keberagaman itu sendiri. Poin ini sangat penting untuk mencegah "egoistik cinta tanah kelahiran" yang sempit atau chauvinisme suku yang menganggap kelompoknya sendiri sebagai bangsa pilihan.

6. "Ide Modern" sebagai Fondasi Persaudaraan, Bukan Kekacauan

Apa yang dimaksud dengan "menjadi modern" bagi seorang pemuda Sumatra di tahun 1922? J.J. Van Rijckevorsel (halaman 15-16) memberikan klarifikasi yang sangat krusial. Ia membedakan "ide modern" JSB dengan "ide-ide ketidakpercayaan dan ketiadaan hukum" (ongeloof en bandeloosheid) yang saat itu melanda Eropa pasca-Perang Dunia I.

Baginya, modernitas pemuda Sumatra bukanlah imitasi buta terhadap Barat, melainkan adopsi tiga pilar kemanusiaan:

Pengakuan hak setiap orang: Mengakhiri doktrin kuno bahwa "kekuasaan menciptakan hak" (macht maakt recht).
Kewajiban saling membantu: Menggantikan sikap individualisme egois "setiap orang untuk dirinya sendiri".
Persaudaraan universal: Membunuh sikap acuh tak acuh melalui rasa kemanusiaan yang mendalam.

7. Penutup: Menjaga "Hati Timur" di Dunia yang Terus Berubah

Menutup manifesto ini, Amir (halaman 20) menitipkan pesan yang melampaui zamannya. Ia mengajak rekan-rekannya untuk tetap menjaga "Oostersch hart" (hati Timur)—sebuah identitas yang penuh etika dan kedalaman rasa—sambil tetap terbuka pada kemajuan dunia.

Amir menekankan bahwa kemerdekaan sosial-politik bukanlah sekadar hadiah sejarah, melainkan buah dari kematangan intelektual. Ia menyebutnya sebagai boeddhi (akal budi/kebijaksanaan) dari para Spes patriae. Tanpa kematangan berpikir dan "self-deepening" (perendaman diri dalam ilmu), persatuan hanya akan menjadi jargon kosong.

Setelah satu abad berlalu sejak dokumen di STOVIA ini terbit, kita perlu bertanya: Sejauh mana kita telah mewujudkan "kesadaran kelompok" yang diimpikan mereka? Apakah kita masih terjebak dalam pencarian keseragaman yang semu, ataukah kita telah cukup matang secara intelektual untuk merayakan jembatan persaudaraan di atas jurang perbedaan? Tugas sejarah ini—proses penyatuan yang dinamis—adalah estafet yang kini berada di tangan kita.


Delpredo Marhaen Ajukan Kasasi, Menko Yusril Menghormati

Sebelumnya

Kontemplasi Matra Retret

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional