Bahwa kota ini tak pernah dibangun oleh satu suku, satu agama, atau satu ingatan.
Oleh: Selwa Kumar, Aktivis Sosial, PP IKA USU Bidang Seni dan Budaya
AKU lahir di Tanjung Pura, tak jauh dari istana Kesultanan Langkat. Kakekku seorang kapten India yang dekat dengan Sultan Langkat. Kapten itu gelar untuk tetua komunitas India. Ketika masih bayi aku dibawa ke Medan dan dibesarkan di Jalan Serdang, Gang Titi Batu, di tengah lingkungan Muslim.
Masa remaja, kisah malam-malamku diisi membaca Harian Waspada di rumah Wak Lela, perempuan Mandailing dari Kotanopan. Suaminya bekerja di Waspada dan tiap sore membawa pulang koran. Dari lembar-lembar itulah aku mengenal Medan, sastra, politik, dan kisah orang-orang yang datang dari jauh lalu menetap di Tanah Deli.
Di kampung itu pula aku dibesarkan oleh banyak tangan. Pak Mayor Bustami dan putranya, Bang Ino, sering memberiku buku sejarah, nasihat, dan keyakinan bahwa aku harus menjadi sarjana.
"Belajarlah," kata Bang Ino. "Kau harus sekolah tinggi." Aku anak Medan, lahir di Langkat, yang dibesarkan di tanah Deli. Keduanya Melayu, tersebab itu aku trah "sosiologis" melayu.
Tahun 1987 aku diterima di Sastra Melayu USU. Di sana aku bertemu senior: Sulaiman Faris, Roy Siregar, Edi Zulfikar, Syafruddin Edwin, dan kawan-kawan HMI. Kami berdiskusi sampai larut tentang puisi, sejarah, dan Medan. Juga, kiprah kebangsaan dan karya sastra T.Amir Hamzah, pengerang dari Langkat.
Aku belajar banyak dari tokoh budaya dan resam melayu: Ahmad Samin Siregar, Tengku Lukman Sinar, dan Pengaduan Z. Lubis. Maka, dari dekat aku bernafas, bercakap-cakap, bergaul dan belajar gaya khas Medan, juga kode unik yang Medan kali.
Bahwa kota ini tak pernah dibangun oleh satu suku, satu agama, atau satu ingatan.
Tahun 1993 aku ikut Pengaduan Z. Lubis ke Kotanopan untuk syuting film 'Janji Nam Boru'. Dalam perjalanan itu aku semakin paham: Medan adalah kota perjumpaan.
Gang Titi Batu, tempat aku dibesarkan, hanya gang kecil dengan masjid, madrasah, rumah petak, dan anak-anak dari banyak latar. Tetapi dari gang sempit itulah aku melihat wajah Medan yang sesungguhnya: kota yang lahir dari percampuran.
Maka ketika aku berjalan di Kesawan, Kampung Keling, Sei Deli, atau Simpang Limun, pertanyaan itu selalu kembali:
Bagaimana semua ini bermula?
Jawabannya membawa kita ke tahun 1863, ketika Jacobus Nienhuys membuka perkebunan tembakau di Tanah Deli.
Tahun 1863, satu nama datang ke Tanah Deli: Jacobus Nienhuys.
Ia memperoleh konsesi dari Sultan Mahmud Perkasa Alam untuk membuka lahan di wilayah Kesultanan Deli.
Saat itu Deli masih hutan, rawa, dan kampung-kampung kecil di tepi sungai. Tetapi Nienhuys melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain: tanah hitam yang subur dan cocok untuk tembakau.
Hutan dibuka. Pohon ditebang. Lahan dibersihkan.
Dari tanah itu lahir tembakau Deli. Pada 1865, hasil panen pertama dikirim ke Rotterdam. Tembakau Deli segera terkenal di Eropa. Pada 1869 berdirilah Deli Maatschappij. Sejak saat itu, Sumatra Timur berubah.
Tetapi perkebunan membutuhkan tenaga. Orang Melayu dan Karo tidak ingin menjadi buruh di kebun. Mereka lebih memilih hidup dari sungai, sawah, ladang, dan kampung.
Maka para pemilik perkebunan mendatangkan pekerja dari luar.
Mula-mula dari Cina. Buruh Tionghoa datang dari Penang dan Singapura sejak 1864. Sesudah itu datang pula buruh dari India.
Dari India datang orang Tamil, Malayali, Kerala, Andhra, Sikh, Punjab, dan Sindhi.




KOMENTAR ANDA