post image
Ilustrasi
KOMENTAR

Kita pernah mengalami era keoralitasan di jaman prasejarah. Era tersebut telah digantikan era literasi tatkala manusia menemukan aksara dan memproduksi teks. Kini, kita seperti kembali memasuki era keoralitasan namun dengan kondisi yang baru, yakni “keoralitasan digital”.

Oleh: Akuat Supriyanto, Pengajar Manajemen pada FEB UNPAD dan Trainer Perhitungan Dampak Inovasi Sosial


KEMARIN sore (22 Maret), di kaki Gunung Muria - Kudus, pada sebuah compound kecil yang terdiri dari dua bangunan semi klasik dan beberapa saung kecil, saya berjumpa dengan Hasan Aoni Azis. Sohib lama yang saya kenal dari jaringan pegiat pers mahasiswa Indonesia ini, belakangan namanya viral di jagad sosmed karena disebut-sebut sebagai bapak “ideologis” Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM yang lebih duluan viral gegara lantang mengkritik program MBG (Makan Bergizi Gratis).

Tiyo merupakan alumni dari Omah Dongeng Marwah (ODM) yang digagas Hasan; sebuah inisiatif yang awalnya ditujukan untuk memberikan ruang bermain dan berinteraksi pada anak-anak di Kampung Ngasinan, Bae, Kudus. Belakangan, ODM berkembang menjadi PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dan muncul sebagai prakarsa inovasi sosial yang cukup menonjol dalam menjawab berbagai isu pendidikan komunitas melalui solusi yang benar-benar berdampak.

Saya biasanya mampir ke rumah Hasan saat libur lebaran, dalam perjalanan mudik ke kampung asal saya di timur Kota Kudus. Tapi, kunjungan kali ini terasa spesial karena saya membawa titipan banyak pertanyaan kawan-kawan di Jakarta dan Bandung yang ingin tahu lebih banyak tentang ODM. Bahkan, ada teman yang secara khusus menanyakan kemungkinan anaknya dapat diterima belajar di ODM karena selama ini merasa tak cocok dengan pola sekolah formal.

Ada ketakjuban sekaligus curiosity pada mereka, bagaimana mungkin sanggar belajar yang sederhana ini mampu mencetak tokoh pemimpin muda yang punya narasi dan diksi yang “menyihir” publik seperti Tiyo?

Di samping itu, juga muncul keingintahuan lebih jauh apakah ODM berbeda dengan sanggar-sanggar bermain anak berlabel pendidikan alternatif yang umumnya lebih berfokus pada literasi budaya dan peningkatan kemampuan komunikasi/ soft-skill namun kurang peduli pada kompetensi keilmuan dasar seperti sains dan matematika?

Untuk keingintahuan yang pertama, saya mendapat cerita dari Hasan bahwa ODM memfasilitasi anak-anak berkembang sesuai passionnya. Untuk maksud ini, ODM juga melibatkan psikolog. Kebetulan, Tiyo punya passion dan bakat alami dalam bidang bahasa dan seni komunikasi yang terkait dengan sedikit banyak diplomasi atau politik. Ia kemudian diasah bukan hanya dengan aktivitas internal ODM tetapi juga difasilitasi bertemu dengan berbagai tokoh besar di bidangnya, dan kebetulan, Tiyo punya kecerdasan yang baik sehingga menyerap berbagai pengetahuan dan melentingkan soft-skillnya.

Meski demikian, jenis Tiyo ternyata bukan tipikal yang bisa digeneralisasi dari “murid-murid” ODM. Ada juga murid yang mimpinya bukan di panggung kepenulisan atau keaktivisan, bukan di pentas budaya atau politik. Namun begitu, sebagian anak mengalami problem klasik; mereka merasa jengah, kesulitan, dan kurang menemukan ketertarikan pada pelajaran sains dan matematika. 

Hasan yang menggali kisah-kisah dari anak-anak itu mendapatkan kesimpulan bahwa pelajaran-pelajaran ilmu dasar itu kurang disukai anak karena tidak diajarkan secara praktikal. Akibatnya, anak-anak sulit menemukan relevansinya pada kehidupan mereka sehari-hari sehingga alih-alih menjadi tertarik, anak-anak justru menjadikan topik-topik eksakta itu sebagai “momok”.

Karena itu, di samping keterampilan retorika dan aneka soft-skill lain yang menjadi output melekat dari pembelajaran di ODM, saya menangkap ada ambisi besar yang nampaknya telah ditata dengan hati-hati di ODM: menjadikan dongeng sebagai tangga menuju sains. Ini menjawab keingintahuan kami yang kedua. ODM berinisiatif mengumpulkan aneka kisah, cerita, storytelling, untuk menjadi alat untuk memahamkan tentang sains dan bagaimana alam semesta bekerja.

Hasan bercerita tentang bagaimana anak-anak bisa belajar tentang petir dengan menukilkan cerita-cerita tentang petir dalam kitab suci atau legenda lokal lalu dikupas dalam konteks iklim atau cuaca, sebagai pintu masuk untuk memahamkan pengetahuan saintifik terkait petir.

Dalam konteks ini, saya menemukan hal menarik bahwa komunitas kecil di Kudus ini telah mempraktikkan sebuah teori yang baru saja dirumuskan Derek Thomson dalam buku The Orality Theory of Everything (TOTE) yang terbit bulan lalu (Februari 2026) dus masih hangat bak gorengan baru diangkat dari wajan.

Jurnalis senior The Atlantic, Derek Thompson, meluncurkan TOTE yang segera memantik diskusi di kalangan akademisi dan pemerhati media. TOTE merangkum sebuah argumen yang sebenarnya sudah dirintis oleh Walter Ong dan Marshall McLuhan setengah abad sebelumnya: bahwa cara manusia berkomunikasi -apakah melalui lisan atau tulisan- telah membentuk peradaban. 

Kita pernah mengalami era keoralitasan di jaman prasejarah. Era tersebut telah digantikan era literasi tatkala manusia menemukan aksara dan memproduksi teks. Kini, kita seperti kembali memasuki era keoralitasan namun dengan kondisi yang baru, yakni “keoralitasan digital”, sebuah keniscayaan akibat ambrolnya budaya literasi setelah diterjang gempuran media sosial dan kecerdasan buatan.

Sebagaimana dikatakan Ong bahwa cara berkomunikasi membentuk cara berpikir: budaya lisan murni -sebelum manusia mengenal aksara- membuat penyebaran pengetahuan tidak bisa dilakukan melalui buku. Pengetahuan harus dihafal, diulang, dan disebarkan dari mulut ke mulut. Inilah sebabnya mengapa epos seperti Odyssey karya Homeros memiliki irama, pengulangan, dan metafora yang kaya. Semua hal itu adalah alat bantu memori.

Kemudian, sekitar 2.500 tahun lalu di Yunani kuno, alfabet fonetik mengubah segalanya. Manusia bisa "mengunci" pikiran di atas kertas, membacanya sendirian, merenungkannya dalam keheningan. Literasi memungkinkan lahirnya pemikiran abstrak, logika formal, metode ilmiah, dan semua fondasi peradaban modern.

"The age of literacy made possible a set of abstract systems of thought—calculus, physics, advanced biology, quantum mechanics—that are the basis of all modern technology (Jaman literasi memungkinkan serangkaian sistem abstrak pemikiran -kalkulus, fisika, biologi lanjut, mekanika kuantum -yang semuanya merupakan dasar teknologi modern)," tulis Thompson.

Namun di abad ke-21, kita menyaksikan sesuatu yang paradoksal. Di satu sisi, kita lebih melek aksara daripada masa lalu. Namun di sisi lain, cara kita mengonsumsi informasi kembali menyerupai budaya lisan: cepat, sosial, berbasis audiovisual, dan penuh dengan repetisi.

Sebagaimana yang diidentifikasi Thompson, mewabahnya sosmed dan AI di abad ke-21 dalam oralitas baru ini, informasi dikonsumsi dalam bentuk video pendek, podcast, dan percakapan viral yang mengedepankan pengulangan serta keterlibatan emosional. 

Hasan mungkin belum membaca buku Thompson saat saya berbincang dengannya beberapa hari lalu. Tapi, yang ia lakukan sejak 2015 seakan menjadi implementasi awal dari teori tersebut. “Matematika, misalnya, akan lebih mudah dipahami anak-anak jika disampaikan dengan metode bercerita atau mendongeng,” jelasnya. 

Edy Supratno, co-founder ODM, pernah berkisah: “Anak cenderung mempunyai keberanian serta mampu berpikir cakap dengan dongeng. Sebab, dengan mendongeng anak dituntut terbiasa berpikir runtut” .

Runtut. Linear. Inilah yang oleh Walter Ong disebut sebagai pola pikir literasi. Menariknya, ODM menemukan bahwa dongeng -yang dianggap sebagai medium khas budaya lisan- justru bisa menjadi kendaraan yang sempurna untuk mengajarkan pola pikir linear tersebut.

Setiap hari di ODM, kegiatan mungkin tidak dimulai dengan buku teks, melainkan dengan dongeng. Satu siswa bisa saja ditugaskan membawakan cerita yang diambil dari internet. Sehingga, ini bukan lagi latihan public speaking biasa melainkan fondasi pembelajaran yang lebih luas.


Ismail: Dari Klan Menjadi Suku

Sebelumnya

Democracia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Gaya Hidup