Malam hari, 28 Februari 1942, sebuah pertempuran hebat terjadi di Selat Sunda yang menyatukan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Dalam pertempuran itu, kapal penjelajah ringan Australia HMAS Perth, kapal penjelajah berat Amerika USS Houston, dan kapal perusak Belanda HNLMS Evertsen berhadapan dengan armada gugus tugas Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang besar.
Pertempuran sengit berlangsung selama beberapa jam hingga lewat tengah malam. Ketiga kapal sekutu, HMAS Perth, USS Houston, dan HNLMS Eversten, tenggelam. Di pihak Jepang, lima kapal perang tenggelam, tiga di antaranya karam karena terkena tembakan kawan sendiri (friendly fire).
Sebuah upacara sederhana untuk memperingati ulang tahun ke-84 peristiwa bersejarah itu digelar Kamis, 26 Februari 2026 di atas KRI John Lie-358.
Kegiatan diawali dari Dermaga I Regional II Pelindo Ciwandan, Cilegon, Banten, dan berlangsung dengan khidmat sebagai bentuk penghormatan atas jasa para pahlawan laut yang gugur dalam pertempuran bersejarah tersebut.
Upacara dihadiri delegasi dari Australia, Amerika Serikat, serta perwakilan TNI Angkatan Laut, termasuk unsur pimpinan TNI AL di wilayah Banten.
Rangkaian kegiatan meliputi pelayaran menuju titik peringatan di perairan Selat Sunda, penyampaian sambutan perwakilan senior TNI AL dan kedutaan, pembacaan doa, peletakan karangan bunga, serta pengumandangan lagu kebangsaan masing-masing negara sebagai simbol penghormatan dan persahabatan antarbangsa.
Denpom Lanal Banten memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib, aman, dan lancar, mulai dari keberangkatan hingga kembali ke dermaga. Pengamanan terpadu dilaksanakan secara profesional guna mendukung kelancaran acara serta menjaga kehormatan dan citra TNI AL dalam pelaksanaan kegiatan internasional.
Upacara ini diharapkan semakin mempererat kerja sama dan hubungan historis antara Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat di bidang kemaritiman dan pertahanan.
“Hari ini kita menghormati para pelaut USS Houston dan HMAS Perth yang gugur dalam Pertempuran Selat Sunda,” kata Kuasa Usaha ad Interim (CDA) Kedutaan Besar AS di Jakarta, Peter M. Haymond.
“Berdiri bersama mitra Indonesia dan Australia, kita diingatkan bahwa kebebasan bertahan melalui kemitraan, pengorbanan, dan komitmen bersama kita untuk melestarikan warisan ini bagi generasi mendatang,” sambungnya dalam keterangan kepada redaksi.
Penyelenggaraan peringatan di atas kapal Angkatan Laut Indonesia (TNI AL) menggarisbawahi kekuatan hubungan pertahanan maritim trilateral dan tanggung jawab bersama dalam menjaga makam perang kedaulatan dan warisan maritim.
Perwakilan dari ketiga angkatan laut dan dinas maritim meletakkan karangan bunga di Selat Sunda untuk menghormati para pelaut yang gugur. Acara tersebut menyoroti komitmen abadi untuk mengenang dan persahabatan antar negara, yang terus membentuk kerja sama regional.
Upacara tersebut memperkuat kerja sama antara Amerika Serikat, Australia, dan Indonesia dalam menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Kemitraan ini tetap penting karena ketiga negara menghadapi tantangan bersama dalam keamanan maritim, stabilitas regional, dan upaya untuk melindungi situs warisan seperti Teluk Banten.
Upaya terkait termasuk upaya Kedutaan Besar AS untuk mendapatkan hibah Dana Duta Besar untuk Pelestarian Budaya (AFCP), penggunaan program Bantuan Kemanusiaan, Bencana, dan Sipil Luar Negeri (OHDACA) untuk mendukung masyarakat sekitar, dan survei bilateral Angkatan Laut pada tahun 2026 yang direncanakan di lokasi bangkai kapal.
Pertempuran Selat Sunda merenggut nyawa 696 pelaut dan marinir Amerika setelah pertempuran malam yang sengit di lepas pantai Jawa. Dari 368 pelaut dan marinir Houston yang selamat dari tenggelamnya kapal, banyak yang terus melawan saat ditawan di Jawa, Singapura, Myanmar, Thailand, dan Jepang.
Pada akhir perang, 291 pelaut Houston kembali ke rumah sebagai pahlawan. Sejak 1945, Asosiasi Penyintas USS Houston, yang sekarang bernama Asosiasi Penyintas USS Houston dan Generasi Berikutnya, telah berkumpul setiap tahun di Houston, Texas, untuk mengenang kapal dan awaknya yang pemberani.


KOMENTAR ANDA