Tiga prajurit TNI yang menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian UNIFIL di selatan Lebanon gugur dalam dua kejadian terpisah.
Kopral Anumerta Farizal Rhomadhon tewas ketika markas batalion Indonesia di Adchit Al Qusayr pada Minggu malam, 29 Maret 2026.
Kurang dari 24 jam kemudian, Senin, 30 Maret 2026, Mayor Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, dan Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan tewas ketika konvoi logitistik terkena ledakan di Bani Hayyan. Selain itu dalam peristiwa kedua, lima prajurit TNI juga disebutkan mengalami luka-luka.
Hari Sabtu lalu, 4 April 2026, tiga prajurit TNI kembali terluka dalam ledakan yang terjadi di fasilitas PBB di dekat El Adeisse.
Dewan Keamanan PBB tengah melakukan investigasi terhadap kejadian-kejadian ini. Seperti yang diminta Indonesia melalui Perwakilan Tetap RI Dubes Umar Hadi dalam pertemuan khusus sehari setelah kejadian kedua, Selasa, 31 Maret 2026, investigasi itu harus dilakukan segera, menyeluruh, dan transparan demi mencari tahu siapa pihak yang bertanggung jawab dan untuk menyusun protokol yang lebih ketat untuk mengamankan pasukan penjaga perdamaian.
UNIFIL atau UN Interim Forces in Lebanon yang berarti Pasukan Sementara PBB di Lebanon didirikan pada 19 Maret 1978 berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 425 dan 426, dan beberapa resolusi lebih lanjut pada tahun 2006 untuk menegaskan demiliterisasi Hizbullah, mendukung operasi tentara Lebanon melawan pemberontak dan penyelundupan senjata, dan menegaskan penarikan pasukan Israel dari Lebanon, juga untuk memastikan bahwa pemerintah Lebanon memulihkan otoritas efektifnya di wilayah tersebut.
Setelah Perang Lebanon 2006, Dewan Keamanan PBB meningkatkan UNIFIL dan menambahkan tugas tambahan pada mandat tersebut seperti membantu pengungsi.
Saat ini UNIFIL diperkuat sekitar 10 ribu pasukan penjaga perdamaian dari 46 negara. Indonesia merupakan negara yang mengirimkan delegasi terbanyak, yakni 755 personel, diikuti Italia (754 personel), lalu Spanyol (658 personel) dan India (642 personel).
Dari catatan Pasukan Penjaga Perdamaian PBB, misi di Lebanon Selatan ini merupakan misi yang “paling mematikan” bagi personel penjaga perdamaian. Sejak berdiri tahun 1998, sampai peristiwa terakhir yang menimpa prajurit TNI, sudah sebanyak 342 persosnel UNIFIL yang tewas dalam tugas.
Dari jumlah itu, pasukan Irlandia tercatat sebagai yang paling banyak tewas dalam misi UNIFIL, yakni 48 personel tewas dalam berbagai kejadian. Diikuti Prancis (40 personel), Ghana (39 personel), Fiji (36 personel), Nepal (31 personel), dan Norwegia (21 personel).
Misi PBB yang juga “mematikan” bagi personel pasukan penjaga perdamaian adalah UN Multidimensional Integrated Stabilization Mission in Mali atau MINUSMA yang didirikan pada 2013. Sejauh ini sebanyak 311 personel penjaga perdamaian PBB tewas sejak MINUMASA didirikan.
Bila dari sisi jumlah korban tewas berada di posisi kedua, namun bila ditilik dari jumlah korban sejak didirikan, bisa jadi MINUMASA inilah yang merupakan misi PBB yang paling mematikan bagi personel penjaga perdamaian PBB.
Berkaitan dengan kejadian terakhir yang menewaskan dan melukai prajurit TNI di UNIFIL berkembang sejumlah kabar yang perlu diklarifikasi ulang.
Misalnya disebutlan bahwa tiga negara, yakni Malaysia, Italia, dan Argentina, menarik personel mereka dari UNIFIL.
Informasi yang diperoleh dari lingkungan PBB menyebutkan bahwa kabar-kabar ini terbukti hoax.
Malaysia tidak menarik pasukannya, melainkan memerintahkan personel mereka untuk berada di dalam bunker perlindungan apabila krisis berlanjut. Yang artinya menghentukan sementara operasi luar ruang, seperti patroli di area operasi.
Menhan Malaysia juga telah menegaskan bahwa penarikan sepihak tidak dapat dilakukan sebagai kepatuhan terhadap mandat dan proses PBB
Italia pun demikian. Tidak ada rencana Italia untuk menarik pasukan lebih awal. Pemerintah Italia disebutkan berencana melakukan transisi ke misi bilateral bersama Lebanon setelah mandat UNIFIL berakhir pada Desember 2026. Tujuan dari transisi ini adalah untuk melatih tentara Lebanon dalam menjaga stabilitas dan mencegah kekosongan keamanan
Adapun Argentina tidak menarik pasukannya dari UNIFIL karena kasus kasus terakhir, karena pasukan Argentina sudah ditarik dari UNIFIL pada tahun 2024. Sejauh ini tidak ada alasan pasti yang diungkapkan Argentina terkait penarikan pasukan itu. Ketiga ditarik dari UNIFIL pada 2024, jumlah personel Argentina hanya 3 orang.
Sementara terkait dengan pasukan Indonesia, Panglima TNI telah menginstruksikan pasukan untuk menghentikan kegiatan luar ruangan dan berlindung di bunker demi keselamatan. Selain itu semua personel diminta memantau situasi sesuai SOP, dan seluruh instruksi dan penyesuaian operasional kontingen ini dilaksanakan berdasarkan asesmen situasi serta prosedur keamanan Misi Perdamaian PBB.




KOMENTAR ANDA