post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Mendefinisikan ancaman secara tepat adalah hal pertama yang harus dilakukan setiap bangsa dan negara yang ingin panjang usia.

Oleh: Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute

BARBARIANS at the Wall: The First Nomadic Empire and the Making of China” bukan sekadar narasi sejarah usang tentang peperangan di padang rumput Mongolia, melainkan sebuah studi mendalam mengenai dialektika antara peradaban menetap (settled civilization) dan kekuatan nomaden (nomadic power).

John Mann, seorang wartawan dan penulis Inggris yang memiliki minat sangat tinggi pada sejarah Asia Timur, di dalam buku ini menggambarkan fondasi awal terbentuknya konsep ruang geopolitik di Asia Timur yang hari ini kita kenal sebagai Tiongkok.

Kisahnya dimulai dari kebangkitan Xiongnu, kekaisaran nomaden pertama yang mendominasi jantung Asia selama ratusan tahun sejak abad ke-3 SM sampai abad ke-1 M. Keberadaan Xiongnu inilah yang didefinisikan sebagai ancaman dari utara inilah yang memaksa dinasti-dinasti awal di Tiongkok melakukan unifikasi politik dan militer.

John Man menunjukkan bahwa Tembok Besar Tiongkok yang dibangun berbagai dinasti Tiongkok sejak era Pra-Qin (abad ke-8 SM) sampai era Dinasti Ming (abad ke-15 M) bukan hanya artefak fisik, melainkan garis demarkasi ideologi dan geopolitik yang memisahkan dua cara hidup yang saling bertentangan namun saling membutuhkan.

Jika kita tarik ke konteks modern, apa yang disebut sebagai “tembok” tersebut kini mewujud dalam bentuk kebijakan proteksionisme, blokade ekonomi, dan perlombaan teknologi antara kekuatan Barat dan Tiongkok.

Pertarungan geopolitik saat ini menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju situasi yang semakin keras dan penuh persaingan kekuatan, menyerupai ketegangan antara Han dan Xiongnu di masa lalu.

Seperti yang saya sampaikan di berbagai forum, dunia cenderung bergeser dari tatanan liberal yang menghormati dan menjunjung tinggi berbagai aturan dalam pergaulan internasional menuju situasi anarki yang memaksa negara-negara mengutamakan kepentingan nasional di atas segalanya.

Xiongnu dalam buku ini merepresentasikan entitas yang mengganggu kenyamanan status quo, memaksa Tiongkok kuno untuk terus berinovasi dalam mengembangkan strategi pertahanan. Dan hari ini kita melihat fenomena serupa di mana kekuatan-kekuatan baru muncul untuk menantang hegemoni lama, menciptakan ketegangan yang memaksa lahirnya tatanan dunia baru.

John Man menekankan bahwa warisan Xiongnu yang kemudian diteruskan oleh Attila sang Hun dan Jenghis Khan telah mengubah peta dunia secara permanen. Hal ini mengajarkan kita bahwa perubahan besar dalam geopolitik seringkali dipicu oleh mereka yang dianggap sebagai “barbarian” atau pihak luar oleh pusat kekuasaan dunia.

Keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri dan melibnatkan diri secara aktif dalam berbagai isu dan persoalan global adalah kunci bagi negara seperti Indonesia untuk tidak sekadar menjadi penonton di balik tembok kekuatan global.

Strategi state-driven economy yang kini diadopsi oleh banyak negara besar berakar pada kebutuhan untuk menjaga kedaulatan dari tekanan eksternal yang agresif.

Buku ini juga menyoroti bagaimana mobilitas nomaden memberikan keunggulan asimetris melawan kekaisaran yang kaku. Dalam geopolitik abad ke-21, mobilitas ini diterjemahkan ke dalam kecepatan adopsi teknologi digital dan kecerdasan buatan sebagai senjata baru dalam perang asimetris.

Tembok fisik mungkin sudah tidak relevan di era siber, namun “tembok digital” dan kedaulatan data menjadi baris pertahanan baru yang sangat vital. John Man membuktikan bahwa tanpa ancaman dari  para barbarian, Tiongkok mungkin tidak akan pernah menjadi kekuatan besar yang terkonsolidasi seperti sekarang.

Kritik geopolitik saya terhadap situasi saat ini adalah bahwa banyak negara seringkali lupa membangun “benteng internal” sebelum menghadapi ancaman global. Penguatan ideologi pembangunan dan kemandirian nasional adalah harga mati agar sebuah bangsa tidak lumat dalam pusaran konflik kekuatan besar. 

Buku ini mengajarkan kita sekali lagi bahwa keamanan suatu negara adalah situasi di mana kemampuan pertahanan lebih besar daripada ancaman yang dihadapi. Namun di sisi lain, penting pula untuk dicatat bahwa mendefinisikan ancaman secara tepat adalah hal pertama yang harus dilakukan setiap bangsa dan negara yang ingin panjang usia.

Transformasi energi dan transisi menuju ekonomi hijau juga merupakan bentuk “tembok” baru untuk melepaskan ketergantungan pada pasokan energi luar negeri yang fluktuatif. Persaingan antara AS dan Tiongkok saat ini pada dasarnya adalah pengulangan sejarah tentang siapa yang menguasai jalur perdagangan dan ruang hidup (lebensraum).

Melalui buku ini, John Man mengajak kita melihat bahwa sejarah geopolitik adalah siklus abadi antara konsolidasi dan disintegrasi. Dan membacanya memberikan kita perspektif bahwa stabilitas seringkali lahir dari keseimbangan kekuatan yang saling mengancam secara sehat.

Intinya, jangan pernah meremehkan kekuatan yang muncul dari “tepi”, karena dari sanalah seringkali lahir perubahan paradigma dunia yang paling radikal.

Buku ini adalah pengingat penting bahwa kedaulatan bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan diperjuangkan dan dipertahankan dengan kecerdasan strategi. Karya John Man ini wajib dibaca bagi siapapun yang ingin memahami akar perseteruan abadi di daratan Eurasia dan bagaimana hal itu membentuk wajah dunia modern.

Mari kita jadikan sejarah sebagai kompas untuk menavigasi masa depan bangsa yang mandiri, bermartabat, dan disegani di panggung global.


Prabowo dan Pelajaran dari “Breakout Nations”

Sebelumnya

Tasbih Raksasa di Tamalabba

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya