Maskapai penerbangan asal Qatar, Qatar Airways, mengonfirmasi penundaan dan penghentian sementara penerbangan ke 13 destinasi internasional dari hub utamanya di Bandara Internasional Hamad (DOH), Doha. Keputusan ini memicu perhatian industri penerbangan global karena memengaruhi sejumlah rute penting di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
Penerbangan menuju belasan destinasi tersebut awalnya dijadwalkan untuk beroperasi kembali pada September 2026. Namun, berdasarkan pembaruan jadwal penerbangan terbaru, pengembalian rute-rute ini diundur hingga setidaknya akhir Maret 2027, sementara beberapa destinasi lainnya bahkan dihapus sepenuhnya dari jadwal penerbangan tanpa tanggal pasti untuk diaktifkan kembali.
Dari total 13 destinasi yang terdampak, opsi pemulihan dibagi menjadi dua kategori utama. Kategori pertama mencakup tujuh destinasi yang ditargetkan kembali beroperasi pada akhir Maret atau awal April 2027, bertepatan dengan perpindahan jadwal musim panas maskapai sesuai musim slot IATA. Sementara itu, kategori kedua berisi enam rute yang penerbangannya saat ini sama sekali tidak memiliki tanggal pemulihan.
Untuk kelompok destinasi yang diundur ke musim panas 2027, rute yang terdaftar mencakup Gassim, Tabuk, Taif, dan Yanbu di Arab Saudi, serta Neom Bay. Selain itu, rute menuju Istanbul Sabiha Gökçen di Turki dan Malta juga ditunda hingga akhir Maret 2027 dengan rencana frekuensi penerbangan mulai dari dua hingga tujuh kali seminggu menggunakan armada Airbus A320ceo.
Di sisi lain, enam destinasi yang hingga kini belum memiliki kepastian jadwal kembali adalah Hamburg (Jerman), Djibouti, Kano (Nigeria), Mogadishu (Somalia), Sofia (Bulgaria), dan Venesia (Italia). Seluruh penerbangan langsung maupun transit menuju kota-kota tersebut ditarik dari sistem pemesanan tanpa estimasi waktu reintroduksi.
Penangguhan rute Hamburg (HAM) menjadi salah satu hal yang paling disorot. Qatar Airways baru meluncurkan penerbangan harian ke kota di utara Jerman tersebut pada 2024 menggunakan Boeing 787-8, namun operasinya terhenti sejak Maret lalu. Penghentian yang berlanjut ini menimbulkan ketidakpastian apakah maskapai anggota aliansi oneworld tersebut akan kembali melayani Hamburg di masa mendatang.
Rute kawasan Afrika seperti Mogadishu dan Djibouti juga mengalami pembekuan operasi. Selama ini, penerbangan ke Mogadishu dilayani tiga kali seminggu melalui transit di Djibouti menggunakan pesawat Airbus A320ceo berkapasitas 132 kursi. Rute ini padahal menjadi jalur transit penting bagi ribuan penumpang yang menghubungkan Somalia ke kota-kota besar di Eropa dan Asia melalui Doha.
Langkah penghentian 13 rute ini bertepatan dengan pemangkasan kapasitas penerbangan Qatar Airways secara menyeluruh. Berdasarkan data penyesuaian jadwal untuk periode September 2026 hingga Februari 2027, maskapai telah mengurangi sekitar 2,4% dari total jadwal penerbangannya dari Doha, menambah pemotongan yang sudah dilakukan sebelumnya hingga total penurunan mencapai 6,9% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sejumlah negara mengalami penurunan frekuensi penerbangan yang lumayan signifikan akibat restrukturisasi ini. Negara-negara yang terdampak pengurangan penerbangan terbanyak di antaranya adalah Suriah (-44%), Hungaria (-43%), Rumania (-40%), Serbia (-39%), Denmark (-36%), Oman (-29%), Polandia (-29%), dan Norwegia (-24%), di samping penghentian penuh rute ke Bosnia dan Herzegovina.
Meskipun melakukan pengurangan di beberapa kawasan, Qatar Airways mengalihkan fokus dan kapasitasnya ke pasar-pasar lain yang dinilai lebih strategis. Maskapai justru meningkatkan frekuensi penerbangan ke Aljazair, Jepang, Rusia, Mesir, China, Kanada, dan Bangladesh, serta bersiap membuka rute baru ke Kolombia dan Venezuela di samping mengaktifkan kembali layanan ke Finlandia dan Sudan.



KOMENTAR ANDA