post image
Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, 25 September 2026./Guardian
KOMENTAR

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut kedatangan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih dalam sebuah kunjungan kenegaraan yang sarat dengan kehormatan diplomatik.

Namun, para pengamat menilai pertemuan tingkat tinggi tersebut lebih mengedepankan aspek seremonial ketimbang menghasilkan terobosan nyata atas berbagai isu pelik yang memecah kedua negara.

Guardian mencatat, pertemuan tertutup yang berlangsung singkat tersebut gagal membuahkan kesepakatan berarti terkait masalah-masalah utama seperti kecerdasan buatan (AI), perdagangan global, Taiwan, hingga konflik di Iran. Kendati demikian, kedua belah pihak sepakat untuk memperpanjang jeda perang dagang mereka hingga 10 Januari mendatang.

Di tengah jalannya diskusi, Presiden Xi kembali menyinggung teori akademik "Thucydides Trap", sebuah asumsi bahwa persaingan antara kekuatan yang sedang naik daun dan kekuatan mapan sering kali berujung pada perang. Xi menekankan bahwa risiko tersebut sebenarnya dapat diatasi dan mendesak adanya kerja sama erat antara kedua negara adidaya.

Sejumlah kritikus, termasuk mantan diplomat AS Danny Russel, melontarkan kritik pedas terhadap format pertemuan yang dinilai lebih mirip "diplotainment" atau hiburan diplomasi. Russel menyayangkan waktu yang dihabiskan kedua pemimpin lebih banyak tersita untuk acara sosial dan seremonial alih-alih menyelesaikan masalah inti hubungan bilateral AS-China.

Terkait isu kecerdasan buatan (AI), Trump sempat mengunggah di media sosial bahwa dirinya dan Xi akan membahas teknologi "super intelligence" (istilah buatan Trump untuk AI) namun tidak berniat memperketat regulasi baru. Di sisi lain, Xi menyatakan bahwa kedua negara harus memastikan perkembangan AI tetap berada di bawah kendali manusia.

Isu mengenai Taiwan juga menjadi sorotan tajam setelah Xi mendesak agar Trump menentang kemerdekaan Taiwan serta menghentikan penjualan senjata. Sebelumnya, Trump sempat menahan paket bantuan senjata senilai sekitar $14 miliar untuk Taiwan dan menyebutnya sebagai alat tawar-menawar yang strategis.

Hal ini memicu desakan dari para senator dari Partai Demokrat agar pemerintah segera mengirimkan bantuan keamanan serta paket penjualan senjata yang telah disetujui oleh Kongres. China sendiri memandang Taiwan sebagai wilayah kedaulatannya dan tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan militer untuk menguasainya.

Penyambutan Xi di Pangkalan Bersama Andrews juga mencatat sejarah tersendiri karena dilakukan langsung di landasan pacu dengan karpet merah oleh seorang presiden AS—sebuah protokol yang jarang terjadi. Di samping itu, dekorasi bendera China tampak menghiasi area atap Oval Office berdampingan dengan bendera Amerika Serikat.

Kemegahan jamuan makan malam kenegaraan turut dihadiri oleh para taipan teknologi terkemuka dunia. Tokoh-tokoh penting industri teknologi seperti Tim Cook dari Apple, Jeff Bezos dari Amazon, Sundar Pichai dari Alphabet, Sam Altman dari OpenAI, Elon Musk dari Tesla, dan Jensen Huang dari Nvidia turut hadir dalam perjamuan tersebut.

Meski diwarnai jamuan mewah dan pameran kedekatan politik, KTT ini menyisakan banyak pertanyaan besar mengenai arah masa depan hubungan geopolitik Washington dan Beijing. Tanpa adanya solusi konkret atas isu-isu strategis, pertemuan ini dinilai lebih banyak menampilkan simbolisme politik ketimbang resolusi jangka panjang.


Super El Niño Diproyeksikan Picu Lebih dari 450.000 Kematian hingga Februari 2027

Sebelumnya

China Gelar Peringatan 5 Tahun Global Development Initiative di Markas PBB

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia