Dunia penerbangan kembali berduka setelah sebuah insiden kecelakaan pesawat terjadi di Republik Demokratik Kongo. Pesawat jenis Let L-410 yang dioperasikan oleh Tracep Congo Aviation dilaporkan mengalami kecelakaan fatal di wilayah Kenge, Provinsi Kwango, Sabtu, 26 September 2026.
Kecelakaan maut ini menelan korban jiwa sedikitnya belasan orang, termasuk sejumlah perwira tinggi militer yang turut serta dalam penerbangan tersebut. Peristiwa ini langsung memicu perhatian luas dari otoritas keselamatan penerbangan domestik maupun internasional.
Berdasarkan kronologi awal, pesawat bermesin turboprop ganda itu sedang dalam perjalanan penerbangan domestik dari Kota Kikwit menuju ibu kota Kinshasa. Namun, di tengah perjalanan, kru penerbangan mendadak melaporkan adanya gangguan teknis serius pada sistem pesawat.
Akibat kendala mekanis tersebut, pilot memutuskan untuk melakukan pengalihan rute darurat (diversion) guna mencari tempat pendaratan terdekat. Kota Kenge dipilih sebagai titik pendaratan darurat demi menyelamatkan nyawa seluruh penumpang di dalam kabin.
Kendati demikian, situasi berubah menjadi malapetaka karena wilayah Kenge tidak memiliki fasilitas bandara atau landasan pacu yang memadai. Berdasarkan informasi otoritas setempat, lapangan terbang di kawasan tersebut sudah tidak aktif dan tidak layak digunakan.
Saksi mata di lokasi melaporkan bahwa pesawat sempat terlihat berputar-putar di atas kota beberapa kali. Sang pilot berupaya keras mencari ruang terbuka untuk mendarat di tengah keterbatasan infrastruktur darurat yang tersedia.
Karena gagal menemukan area pendaratan yang aman, pesawat akhirnya jatuh menimpa kawasan pemukiman penduduk di lingkungan Manzau. Benturan keras tersebut seketika memicu kobaran api yang membakar sebagian besar badan pesawat.
Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa tidak ada yang selamat dalam insiden tragis ini. Di antara para korban tewas terdapat tokoh-tokoh penting militer, termasuk pejabat tinggi peradilan militer yang sedang menjalankan tugas resmi kenegaraan.
Tim penyelamat dan aparat kepolisian setempat langsung dikerahkan ke lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi serta mengamankan area. Sebagian besar jenazah korban dilaporkan mengalami luka bakar parah akibat kobaran api pasca-benturan.
Otoritas investigasi kecelakaan penerbangan Kongo kini telah membuka penyelidikan resmi guna mengumpulkan serpihan bukti dan menganalisis rekaman data penerbangan. Insiden ini kembali menyoroti tantangan berat terkait keselamatan transportasi udara serta keterbatasan infrastruktur pendukung di kawasan regional Afrika.



KOMENTAR ANDA