post image
Lockheed CL-400 Suntan
KOMENTAR

Pada era Perang Dingin tahun 1950-an, industri dirgantara Amerika Serikat mengalami masa eksperimentasi masif yang melahirkan berbagai teknologi penerbangan revolusioner namun tidak konvensional.

Salah satu proyek paling ambisius yang pernah dirancang namun tidak pernah benar-benar terbang adalah pesawat mata-mata Lockheed CL-400 Suntan yang ditenagai oleh hidrogen cair.

Proyek rahasia dengan sandi "Suntan" ini digagas oleh divisi legendaris Lockheed, yaitu Skunk Works di bawah kepemimpinan Clarence "Kelly" Johnson. Pesawat ini dirancang khusus untuk menjadi penerus pesawat mata-mata Lockheed U-2 Dragon Lady yang dinilai mulai rentan terhadap perkembangan teknologi rudal pertahanan udara Uni Soviet.

Berdasarkan desain awalnya, Lockheed CL-400 Suntan diproyeksikan mampu melaju pada kecepatan luar biasa mencapai Mach 2,5 serta terbang pada ketinggian ekstrem sekitar 100.000 kaki (30.500 meter). Angka tersebut jauh melampaui performa kecepatan U-2 dan bahkan melampaui rencana operasional pesawat legendaris SR-71 Blackbird yang lahir kemudian.

Keputusan untuk menggunakan hidrogen cair sebagai bahan bakar utama didasari oleh keunggulan material tersebut yang memiliki kandungan energi per satuan berat sekitar tiga kali lipat lebih tinggi dibanding minyak tanah (kerosin). Selain itu, hidrogen cair menghasilkan pembakaran yang bersih serta sangat efisien pada penerbangan di ketinggian stratosfer.

Kendati demikian, penggunaan hidrogen cair mendatangkan tantangan rekayasa yang sangat pelik karena massa jenisnya yang sangat rendah. Volume bahan bakar hidrogen yang dibutuhkan mencapai sekitar empat kali lipat lebih besar dibanding bahan bakar jet konvensional, sehingga menuntut desain badan pesawat yang berukuran raksasa dengan panjang mencapai 160 kaki atau lebih.

Kompleksitas teknis tersebut memaksa para insinyur mengembangkan infrastruktur pendukung yang belum pernah ada sebelumnya di Amerika Serikat. Untuk memenuhi kebutuhan uji coba pesawat ini, Lockheed dan mitranya membangun fasilitas produksi dan penanganan hidrogen cair dalam skala industri besar di Burbank dan West Palm Beach, yang sempat membuat lokasi tersebut menjadi produsen hidrogen cair terbesar di Amerika pada masanya.

Seiring berjalannya proses pengembangan antara tahun 1956 hingga 1958, berbagai hambatan operasional mulai bermunculan satu persatu. Hambatan utama yang dihadapi bukan lagi persoalan bahaya hidrogen, melainkan keterbatasan daya jelajah (range) akibat hambatan udara (drag) yang masif dari tangki bahan bakar berukuran raksasa di dalam badan pesawat.

Menyadari bahwa desain tersebut menemui jalan buntu terkait efisiensi jarak tempuh, Kelly Johnson akhirnya merekomendasikan pembatalan program CL-400 Suntan kepada Angkatan Udara AS pada awal tahun 1959. Johnson menyarankan agar fokus dialihkan pada pengembangan pesawat dengan sistem propulsi bahan bakar hidrokarbon konvensional yang lebih realistis dan berukuran lebih kecil.

Walaupun pesawat CL-400 Suntan batal diproduksi secara massal, program rahasia ini tidak sia-sia karena menjadi batu loncatan penting bagi proyek Archangel yang kemudian melahirkan pesawat pengintai supersonik A-12 dan SR-71 Blackbird. Pengalaman dari proyek Suntan juga terbukti sangat berharga bagi kemajuan teknologi dirgantara nasional AS berikutnya.

Warisan terbesar dari proyek pesawat mata-mata berhidrogen cair ini justru dirasakan secara langsung dalam program eksplorasi angkasa luar Amerika Serikat. Seluruh pengetahuan, teknik kriogenik, cara penyimpanan, hingga metode penanganan hidrogen cair berskala industri yang dikembangkan untuk CL-400 kemudian diadopsi sepenuhnya sebagai fondasi penting bagi suksesnya program roket Saturn V dalam misi Apollo ke Bulan serta program pesawat ulang-alik Space Shuttle NASA.


China yang Pertama dalam Program Jet Tempur Gen 6.0, Tapi Kini Dilampaui AS dan Eropa

Sebelumnya

GE Aerospace Pastikan Desain Ulang Tidak Menghambat Jadwal Produksi Boeing 777X

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tech