post image
Abdullah Rasyid
KOMENTAR

Oleh: Abdullah Rasyid, Pencinta Batik, Pencinta Indonesia

ADA pakaian yang kita pilih karena tuntutan acara. Ada pula yang kita kenakan karena memang suka. Bagi saya, batik termasuk yang kedua.

Ketika membuka lemari dan memilih pakaian, batik sering menjadi pilihan yang terasa paling mudah. Untuk pertemuan resmi, batik lengan panjang memberi kesan rapi dan elegan. Untuk suasana yang lebih santai, batik lengan pendek terasa nyaman, tanpa kehilangan kepantasannya.

Barangkali itu yang membuat saya menyukai batik. Ia bisa mengikuti banyak suasana. Dipakai bekerja terasa pas, menghadiri undangan tetap pantas, bertemu sahabat pun tidak terasa berlebihan.

Namun, pada setiap tanggal 2 Oktober, kesukaan sederhana itu mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam. Kain yang kita kenakan ternyata menyimpan cerita panjang tentang Indonesia.

Cerita di Balik Sehelai Kain

Kita biasanya melihat batik setelah selesai: warnanya sudah indah, motifnya sudah terbentuk, jahitannya sudah rapi. Kita memilih, mencobanya, lalu berdiri sebentar di depan cermin.

Jarang kita membayangkan perjalanan sebelum kain itu sampai ke tangan kita.

Ada pembatik yang menorehkan 'malam' dengan canting. Ada tangan yang mengerjakan cap, ada proses pewarnaan, dan ada ketelitian menjaga pola. Pada batik tulis, garis demi garis dikerjakan dengan kesabaran yang sulit diburu waktu.

Di balik keindahannya, ada orang yang bekerja.

Mungkin karena itulah batik terasa memiliki kehangatan tersendiri. Kita mengenakan hasil keterampilan yang dipelajari, dilatih, lalu diwariskan. Sesuatu yang bertahan karena selalu ada orang yang bersedia meneruskannya.

UNESCO memasukkan batik Indonesia ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2009. Pengakuan pada 2 Oktober itu kemudian menjadi dasar peringatan Hari Batik Nasional, yang ditetapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009.

Pengakuan dunia tersebut tentu membanggakan. Tetapi kehidupan batik sehari-hari tetap bergantung pada hubungan antara pembuat dan pemakainya.

Batik yang Dekat dengan Kita

Saya senang melihat batik dikenakan dalam berbagai kesempatan. Di ruang rapat, di acara keluarga, di kampus, atau ketika orang berkumpul merayakan hari bahagia.

Motif dan warnanya berbeda-beda. Ada yang menyukai warna tenang, ada yang memilih corak cerah. Ada yang merasa cocok dengan motif klasik, ada pula yang lebih nyaman dengan rancangan masa kini.

Perbedaan selera itu justru membuat batik terus hidup.

Generasi muda dapat menemukan gayanya sendiri. Mereka bisa memadukan batik dengan pakaian sehari-hari, membuatnya lebih santai, dan membawanya ke ruang pergaulan mereka. Selama keterampilan serta pengetahuan pembuatannya tetap dirawat, kreativitas memberi batik kesempatan untuk terus dikenakan.

Warisan akan lebih dekat dengan kita ketika hadir dalam keseharian.

Mengenakan, Menghargai, Menghidupkan

Membeli batik dari perajin dan usaha lokal berarti memberi ruang bagi pekerjaan mereka untuk berlanjut. Ada penghasilan yang dibawa pulang, bahan yang dapat dibeli kembali, dan kesempatan untuk mengajarkan keterampilan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, mencintai batik juga perlu diwujudkan dengan menghargai prosesnya. Batik tulis membutuhkan waktu dan ketekunan. Harga yang kita bayar berkaitan dengan pekerjaan manusia di baliknya.

Sesekali, menarik juga untuk bertanya ketika membeli: siapa pembuatnya, dari mana asalnya, dan bagaimana kain itu dikerjakan? Percakapan kecil semacam itu bisa membuat hubungan kita dengan batik menjadi lebih akrab.

Kita pulang membawa pakaian sekaligus cerita.


Akhirnya Prabowo Copot Listyo dari Kursi Kapolri

Sebelumnya

Jangan Sampai Skandal Cibinong Menenggelamkan Kasus-kasus Lebih Besar

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional