Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
ADA dua cara menjadi orang penting di Indonesia: masuk lingkaran, atau menolak masuk lingkaran dan tetap penting. Yang pertama butuh koneksi, yang kedua butuh tulang punggung dan nurani.
Erros Djarot, Chappy Hakim dan Yudi Latif adalah contoh tokoh terbaik untuk cara kedua.
1. ERROS DJAROT: Yang Memilih Kamera Daripada Kursi.
Erros lahir di dalam kekuasaan. Ayahnya Mayjen Djarot Soebekti. Dia sekolah di Jerman, pulang ke Indonesia tahun 70-an langsung masuk inti kekuasaan Orde Baru sebagai anggota DPR dari Golkar dan tokoh PDI.Tapi Erros punya penyakit yang tidak disukai penguasa: dia tidak bisa diam.
Sebagai jurnalis di majalah DeTIK, dia menulis kritik yang terlalu jujur tentang Orde Baru. Tahun 1994, DeTIK, Tempo, dan Editor dibredel dalam satu malam. Kantornya ditutup, izinnya dicabut.
Banyak wartawan waktu itu memilih minta maaf dan pindah jadi humas. Erros memilih pindah ke film. Dia membuat Badai Pasti Berlalu (1977), Kabut Sutra Ungu(1979), Tjoet Nja' Dhien (1988) yang menang Festival Film Indonesia tapi selalu bermasalah dengan sensor.
Setelah Reformasi 1998, semua teman-temannya masuk kabinet. Erros mendirikan partainya sendiri: Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK), membawa semangat Bung Karno. Hasil Pemilu 2004: 1,08%. Gagal total. Di titik itu, orang normal akan gabung PDIP demi jabatan. Erros tidak. Dia bilang: "Saya lebih baik kalah dengan ide saya sendiri daripada menang dengan ide orang lain."
2. CHAPPY HAKIM : Yang Mundur Dari Jabatan Dirut Freeport
Sementara banyak orang berebut untuk menjadi Dirut perusahaan monumental seperti Freeport. Lain halnya dengan Chappy Hakim. Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) pada 18 Februari 2017.
Beliau menjabat sebagai Presdir PT Freeport Indonesia selama kurang lebih 4 bulan sejak penunjukannya oleh Presiden Joko Widodo pada November 2016, menjadikannya salah satu pimpinan dengan masa jabatan tersingkat.
Dalam peluncuran bukunya pada Oktober 2019, Chappy Hakim mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil karena ia tidak ingin Indonesia kalah dalam rencana arbitrase oleh Freeport-McMoRan dan menghindari anggapan keliru sebagai pengkhianat negara!
3. YUDI LATIF: Yang Mundur Dari Istana Untuk Menjaga Ide.
Yudi Latif keluar dari lingkaran kekuasaan karena mengundurkan diri. Yudi Latif adalah doktor filsafat dari Australian National University, ahli Pancasila yang menulis buku setebal 600 halaman berjudul “Negara Paripurna” buku yang konon dibaca Jokowi sebelum mengangkatnya sebagai Kepala BPIP, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Gajinya besar, kantornya di Gedung Bappenas, akses langsung ke Presiden. Bagi akademisi lain, itu puncak karir.
Tapi Yudi melihat ke dalam. BPIP yang seharusnya menjadi laboratorium pikiran Pancasila, berubah menjadi panitia upacara dan pembagi stiker. Rapatnya banyak, pikirannya sedikit.
Tanggal 7 Juni 2018, dia mengirim surat pengunduran diri. Tidak ada drama, tidak ada konferensi pers menjelekkan Presiden. Alasannya satu kalimat: ingin fokus pada gerakan literasi dan berpikir di luar birokrasi. Yudi mundur karena dia sadar: di dalam lingkaran penguasa, seorang filosof harus menjadi birokrat. Dan dia tidak mau.
Sekarang dia mengelola Indonesia Care dan Akademi Kebudayaan, mengajar anak muda membaca naskah asli Pancasila. Gajinya jauh lebih kecil dari Kepala BPIP. Tapi dia bisa menulis apa yang dia pikirkan.
Di Indonesia, hampir tidak ada pejabat yang mundur karena alasan moral. Biasanya mundur karena OTT KPK.
Erros, Chappy dan Yudi mengajarkan hal yang sama: di Indonesia, lingkaran penguasa itu memberi kamu segalanya kecuali satu hal — kebebasan untuk mengatakan tidak.
Erros mengatakan tidak sejak 1994. Chappy mengatakan tidak sejak 2016. Yudi mengatakan tidak pada 2018. Karena itu sampai hari ini, ketika mereka bicara, orang masih mendengarkan. Bukan karena jabatan mereka, tapi karena mereka berani tidak punya jabatan demi tetap berada di luar lingkaran kekuasaan.



KOMENTAR ANDA