post image
Foto: Antara
KOMENTAR

Oleh: Dr. Safriady, S.Sos, M.I.Kom, Pemerhati Isu Strategis 

ADA sesuatu yang berbeda dalam peringatan HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia tahun ini. Di tengah parade pasukan, defile alutsista dan berbagai atraksi militer yang selalu menjadi perhatian publik, mata publik justru tertuju pada sesuatu yang jauh lebih sederhana yaitu seragam.

Pakaian Dinas Upacara atau PDU yang dikenakan jajaran perwira tinggi TNI tampil dengan desain baru. Perubahan paling mudah terlihat terdapat pada bagian kerah. Model kerah lipat atau kerah tidur yang selama ini menjadi bagian dari PDU sebelumnya digantikan dengan kerah tegak yang melingkari leher.

Pada bagian kerah terdapat aksen garis emas dengan latar kain merah, sementara bagian ujung lengan diberi lis melingkar berwarna emas. Warna dasar masing-masing matra tetap dipertahankan: hijau tua untuk TNI AD, putih untuk TNI AL dan biru gelap untuk TNI AU.

Sekilas, ini mungkin hanya perubahan desain pakaian. Namun, pada sebuah institusi militer, seragam tidak pernah sekadar pakaian.

Seragam adalah identitas. Ia menunjukkan hierarki, kedisiplinan, tradisi, kebanggaan korps dan representasi institusi di hadapan publik.

Karena itu, perubahan PDU pada HUT ke-81 TNI menarik untuk dibaca lebih jauh. Bukan karena seragam baru otomatis berarti perubahan besar dalam tubuh TNI, tetapi karena perubahan visual tersebut hadir bersamaan dengan proses transformasi TNI yang terus berlangsung.

TNI sedang memasuki fase ketika tradisi dan modernitas harus berjalan beriringan.

Usia 81 tahun bukan usia yang muda bagi sebuah institusi pertahanan. TNI telah melewati berbagai fase sejarah Indonesia dimana revolusi mempertahankan kemerdekaan, demokrasi parlementer, Orde Baru, Reformasi hingga era persaingan geopolitik dan teknologi militer yang semakin kompleks.

Dalam setiap fase tersebut, TNI mengalami perubahan organisasi, doktrin, teknologi, struktur komando dan pola hubungan dengan masyarakat.

Maka, PDU baru dapat dilihat sebagai bagian kecil dari dinamika tersebut sebuah pembaruan tampilan yang tetap mempertahankan identitas dasar masing-masing matra.

Di sinilah menariknya. Perubahan tidak dilakukan dengan menghapus seluruh karakter lama. Warna khas matra tetap dipertahankan. Artinya, modernisasi tidak harus berarti meninggalkan tradisi.

Justru institusi yang kuat adalah institusi yang mampu memperbarui dirinya tanpa kehilangan identitas.

Dalam konteks militer, hal tersebut menjadi penting. Dunia pertahanan hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang jumlah personel dan senjata. Ancaman berkembang ke wilayah siber, ruang informasi, teknologi nirawak, kecerdasan buatan, perang elektronik, ruang angkasa hingga peperangan multidomain.

TNI karena itu membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi.

Modernisasi alutsista menjadi salah satu bagian penting. Tetapi modernisasi juga menyangkut manusia, organisasi, doktrin, pendidikan, profesionalisme dan kultur kelembagaan.

Seragam tentu bukan ukuran profesionalisme. PDU baru tidak otomatis membuat TNI menjadi lebih modern. Namun, perubahan kecil seperti desain seragam menunjukkan bahwa institusi militer pun memiliki ruang untuk melakukan pembaruan.

Dan pembaruan tersebut harus dibaca secara proporsional.

Jangan sampai perhatian publik berhenti pada pertanyaan apakah PDU baru lebih bagus atau lebih menarik dibandingkan PDU lama. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, ke mana arah perubahan TNI setelah memasuki usia 81 tahun?

Apakah modernisasi alutsista mampu diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia?

Apakah kemampuan menghadapi perang siber dan perang informasi semakin kuat?

Apakah interoperabilitas tiga matra semakin baik?

Apakah profesionalisme prajurit semakin kokoh?

Dan yang tidak kalah penting, apakah kedekatan TNI dengan rakyat tetap menjadi fondasi utama?


Meredefinisi Doktrin Pertahanan Inklusif di Tengah Pusaran Dilema Keamanan Global

Sebelumnya

Arus Balik Seragam Hijau: Catatan Kritis Imparsial di HUT ke-81 TNI

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer