Pertanyaan terakhir menjadi relevan karena Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan HUT ke-81 TNI juga menekankan agar prajurit tidak pernah jauh dari rakyat.
Dengan demikian, PDU baru seharusnya tidak dilihat sebagai simbol bahwa TNI sedang mengganti wajahnya. Sebaliknya, ia dapat menjadi pengingat bahwa sebuah institusi yang berumur 81 tahun harus terus mampu memperbarui diri.
Tradisi tetap diperlukan karena dari sanalah identitas dan sejarah dibangun. Tetapi tradisi yang tidak mampu beradaptasi dapat berubah menjadi beban.
Sebaliknya, modernisasi tanpa akar sejarah juga berisiko membuat sebuah institusi kehilangan karakter.
TNI membutuhkan keduanya yaitu akar yang kuat dan kemampuan beradaptasi.
Karena itu, menarik melihat HUT ke-81 TNI bukan hanya dari parade alutsista yang semakin modern atau PDU yang tampil berbeda. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh perubahan tersebut bermuara pada satu tujuan, membangun kekuatan pertahanan yang profesional, modern, adaptif dan tetap dekat dengan rakyat.
Pada akhirnya, seragam hanyalah tampilan luar.
Di balik seragam itu ada prajurit. Di balik prajurit ada profesionalisme. Dan di balik profesionalisme ada tanggung jawab konstitusional untuk menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa.
Pada usia 81 tahun, mungkin inilah pesan yang paling penting yaitu TNI boleh berubah dalam tampilan, teknologi dan cara menghadapi ancaman, akan tetapi jati diri dan pengabdiannya kepada Indonesia harus tetap menjadi fondasi.
Seragam boleh baru, teknologi boleh berubah, doktrin dapat berkembang.
Tetapi merah putih tetap menjadi identitas tertinggi yang menyatukan semuanya.



KOMENTAR ANDA