Oleh: Risman Rachman, Aktivis Aceh
DUNIA internasional hari ini terperangah melihat kecepatan dan presisi operasi militer Amerika Serikat di Venezuela untuk menangkap Nicolás Maduro.
Namun, bagi rakyat Aceh, pola ini adalah dejavu sejarah. Jauh sebelum teknologi satelit dan jet siluman menyentuh Caracas, taktik serupa—cepat, mematikan, dan penuh infiltrasi—telah diuji coba di Kuala Batee, Aceh.
Kemiripan Strategi: "Strike First, Ask Later"
Serangan ke Venezuela pada awal 2026 ini menunjukkan prinsip klasik Amerika: "Strike First, Ask Later" (Serang dulu, tanya nanti). Prinsip yang sama dipegang teguh oleh Presiden Andrew Jackson pada 1832. Tanpa negosiasi, tanpa peringatan kepada Sultan Aceh, ia mengirim USS Potomac untuk satu tujuan: menghancurkan Kuala Batee.
Seni Penyamaran dan Bendera Palsu
Dalam sejarah Kuala Batee, AS menggunakan taktik kamuflase yang licik. Kapten John Downes menyembunyikan meriam kapal dan mengibarkan bendera Denmark agar dikira kapal dagang damai. Taktik ini adalah nenek moyang dari teknologi stealth (siluman) yang digunakan jet-jet tempur AS di langit Venezuela hari ini—semuanya demi elemen kejutan total.
Peran "Orang Dalam": Dari Po Adam (?) hingga Elit Venezuela
Salah satu fakta paling menarik yang kini terulang adalah adanya peran informan lokal. Di Venezuela 2026, beredar kabar adanya keterlibatan elit politik dan militer yang membocorkan sistem radar dan koordinat persembunyian Maduro.
Sejarah mencatat, di Kuala Batee tahun 1832, peran "orang dalam" ini dimainkan oleh Po Adam?
• Sang Penunjuk Jalan: Po Adam, seorang pedagang lokal yang akrab dengan Amerika, menjadi sosok yang memberikan informasi intelijen krusial kepada Kapten Downes.
• Peta Pertahanan: Po Adam-lah yang memetakan letak benteng-benteng pertahanan Aceh dan menunjukkan titik lemah di pesisir pantai. Tanpa informasi dari Po Adam, serangan fajar 6 Februari 1832 mungkin tidak akan se-brutal dan se-efektif itu.
Luka yang Sama di Dua Abad Berbeda
Sama seperti operasi di Venezuela yang menargetkan pusat kekuasaan saat fajar, 282 marinir AS mendarat di Kuala Batee saat penduduk masih terlelap. Dalam waktu kurang dari tujuh jam, kota itu hangus, ratusan orang tewas, dan kedaulatan lokal tercabik-cabik.
Sejarah yang Berima
Kuala Batee menjadi saksi bisu bahwa bagi negara adidaya, kedaulatan sebuah bangsa sering kali harus tunduk di bawah kepentingan mereka. Baik itu lada di abad ke-19 maupun minyak di abad ke-21, polanya tetap sama: kekuatan militer, penyamaran, dan bantuan "orang dalam".
Sejarah tidak hanya berulang, ia berima. Apa yang dialami Venezuela hari ini adalah gema dari dentuman meriam USS Potomac yang pernah menghancurkan kedamaian di pesisir Aceh dua abad silam.


KOMENTAR ANDA