Oleh: Dahlan Iskan, Wartawan Senior
JALAN tol di Mesir terdiri dari lima lajur dan sangat lebar. Selain itu tarifnya supermurah.-Harian Disway-
Yang paling saya kagumi selama di Mesir adalah jalan tolnya. Memang baru dua jalan tol yang saya lewati tapi saya sudah bisa mengambil kesimpulan: Mesir ini beda!
Misalnya jalan tol dari Kairo ke Alexandria: 220 km. Hampir sama dengan jarak Jakarta-Tegal. Atau Surabaya-Yogyakarta. Tarifnya membuat saya tersedak: hanya Rp 3.500. Sangat tidak masuk akal.
Bandingkan dengan Jakarta-Tegal: Rp 240.000. Atau Surabaya-Yogyakarta: sekitar Rp 420.000. Atau kalau Anda masuk tol dari Lampung, 220 km itu sudah sampai di Kayu Agung. Tarifnya: di atas Rp 160.000.
Ternyata jalan tol di Mesir ini milik perusahaan tentara Mesir. Tentara di sana punya banyak sekali badan usaha. Di bidang apa saja. Termasuk konstruksi dan properti. Maka banyak rest area di jalan tol pun milik perusahaan tentara.
Pantaslah rakyat Mesir cinta sekali ke tentara. Bisa memberikan jalan tol dengan tarif semurah itu. Di pilpres yang lalu incumbent menang sampai 90 persen.
Rakyat Mesir justru tidak mendukung partai. Bahkan Ikhwanul Muslimin, yang awalnya dielu-elukan, hanya berkuasa satu tahun. Lalu kembali ke militer lagi.
Bukan hanya murahnya. Juga lebarnya. Ampuun. Satu arah delapan lajur. Yang lima lajur untuk kendaraan pribadi --kendaraan kecil. Yang tiga lajur untuk bus, truk dan kendaraan niaga. Keduanya dipisahkan kone beton.
Ini seperti medan kemerdekaan berkendaraan. Tidak perlu ada aturan: yang berkecepatan tinggi harus di lajur yang mana. Anda banting stir ke mana pun tidak akan menyenggol siapa pun.
Bayangkan. Lima lajur hanya untuk mobil pribadi. Di Indonesia tiga lajur pun untuk rebutan semua jenis kendaraan: truk, bus, box, pikap, dan kendaraan pribadi.
Apakah perusahaan milik tentara itu tidak menghitung ROI (return on investment)? Tidak pakai itungan kapan balik modal?
Tentu ada. Tapi cara menghitungnya yang berbeda. Jalan tol di Indonesia punya cara menghitung sendiri. Begini: 100 persen biaya dianggap pinjaman dari bank. Padahal, sebenarnya hanya 70 persen. Yang 30 persen dari penggelembungan nilai proyek.
Maka harus ada biaya bunga bank dari yang 100 persen itu. Termasuk bunga saat pembangunan dan setelah pembangunan.
Biaya pembangunannya sendiri dibuat cukup untuk memberi laba untuk dibagi-bagi: kontraktor, sub kontraktor dan subnya sub kontraktor.
Kontraktor tidak mengerjakan sendiri proyeknya. Kontraktor menyerahkan bagian-bagian pekerjaan ke sub kontraktor. Berarti ada ruang laba untuk sub kontraktor.
Sub kontraktor pun masih menyerahkan pekerjaan ke pelaksana. Ada laba lagi.
Belum lagi faktor risiko. Juga sekalian dimasukkan dalam perhitungan bunga.
Pun soal pembebasan tanah. Diserahkan ke kontraktor pembebasan. Lalu ke calo. Baru ke koordinator. Semua mengandung biaya.
Dan semua semua itu dibebankan ke tarif tol. Sedang di Mesir tanah adalah tanah negara.
Di Mesir perhitungan non keuangan bisa dimasukkan ke biaya. Di Mesir dalam menghitung ROI pemerintah menghitung return yang bukan investment.
Misalnya: kalau tarif tol murah berarti kian banyak kendaraan yang tidak pakai jalan non-tol. Itu berarti biaya pemeliharaan jalan itu menurun. Dengan lancarnya jalan tol angkutan orang dan barang lancar --menurunkan inflasi.
Pokoknya yang dihitung tidak hanya ROI tapi juga RONI –return on non investment.
Dulu, waktu saya ke Piramid belum ada jalan tol jurusan Alexandria ini. Kini dengan lewat tol bisa cepat sekali ke Piramid: 30 menit. Setengah jam dari Kiro sudah bisa melihat Piramid dari jalan tol.


KOMENTAR ANDA