post image
Foto: Disway
KOMENTAR

Tiba-tiba kang Fauzi –saudagar kum ustaz, membelokkan mobil keluar tol. Ia berkuasa penuh. Ia yang punya mobil. Ia yang mengemudikannya. Saya ikut saja.

"Biar tahu perkembangan sekitar Piramid," ujar Kang Fauzi al Bandungi.

Lingkungan Piramid itu ternyata sudah berubah. Total. Kini sudah ada Piramid keempat. Baru selesai dibangun akhir tahun lalu. Sebenarnya itu bukan Piramid. Itu museum: Grand Egyption Museum. Memang besar sekali. Desainnya dibuat sedemikian rupa seperti abstraksi Piramid. Karena itu dijuluki Piramid Keempat.

"Kita tidak usah masuk museum. Bisa lima jam sendiri di dalamnya," ujar Kang Fauzi.

Intinya turis yang ke Piramid sekarang punya objek tambahan: museum itu.

Setelah berputar di sekitar museum kami balik ke tol lagi –meneruskan perjalanan ke Alexandria. Setengah jam kemudian Kang Fauzi menunjuk ke arah timur: di sana kampungnya Mo Salah –bintang sepak bola Liverpool Mohamed Salah. Mungkin 50 km di timur sana.

Di kampung itu sering terjadi penyembelihan sapi. Setiap kali Salah bikin gol ada sapi yang disembelih. Dagingnya dibagikan ke masyarakat. Kalau dalam satu pertandingan Salah membuat dua gol, dua sapi dipotong.

Kami melupakan Salah. Terus menyusuri kemerdekaan ke barat laut. Kanan kiri jalan tol tanahnya subur. Itulah yang dulu wilayah banjir abadi. Lalu belakangan jadi lahan pertanian setelah banjir bisa dikendalikan lewat bendungan Aswan di Hulu sungai Nil.

Model jalan tol begini hanya ada di Mesir. Dia tidak berkiblat ke mana-mana. Mesir bangga dengan kejayaan masa silamnya.


Ziarah Ziarah

Sebelumnya

Aliran Boneka

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway