Di Jawa yang seperti ini tidak akan terjadi. Jumlah pembangkit listrik di ujung timur 'jalan tol 500 kv' sudah seimbang dengan jumlah pembangkit listrik di ujung barat 'jalan tol 500 kv' Jawa. Yang timur di Paiton, yang barat di Suralaya Banten.
Dalam keadaan kebanting seperti itu yang dilakukan PLN adalah cek dulu kondisi jaringan. Pembangkit tidak boleh dihidupkan sebelum jaringan dinyatakan aman. Itu perlu waktu sekitar dua jam. Setelah jaringan diketahui aman, barulah pembangkit dihidupkan.
Yang paling siap dihidupkan pertama adalah yang genset yang pakai minyak solar. Prosedurnya mudah. Tinggal tekan tombol keluar listrik. Tapi jumlah pelanggan yang bisa tidak banyak.
Lalu pembangkit listrik tenaga air –Asahan 1, 2, 3. Juga pembangkit geotermal: Sarulla. Rasanya dalam tujuh jam mereka sudah bisa menyala. Tetap saja belum cukup. Lumayan. Sebagian pelanggan sudah bisa menyala.
Yang memakan waktu paling lama adalah PLTU batu bara. Untuk menghidupkan kembali harus tunggu boilernya dingin dulu. Lalu diadakan pengecekan: akibat mati mendadak Jumat lalu bisa menimbulkan komplikasi.
Setelah dinyatakan aman barulah boiler dipanasi. Untuk bisa kembali menghasilkan listrik perlu 36 jam. Hampir dua hari sejak kematiannya.
Padahal daya dari PLTU ini sangatlah besar. Itulah sebabnya sebagian besar baru kebagian listrik setelah dua hari. Ikan-ikan di akuarium pasti sudah mati. Daging kurban di kulkas busuk --kalau tidak segera disate. Ternak ayam, harusnya punya solar sel. Toh kebutuhannya tidak banyak. Yang belum punya haruslah segera punya.
Black out bisa terjadi di mana-mana. Kapan saja. Pun di Amerika. Listrik boleh pet. Yang penting harus cepat byar.




KOMENTAR ANDA