post image
KOMENTAR

Adalah kewajiban asasi setiap insan manusia termasuk saya untuk memahami demi menghormati dan menghargai keimanan setiap insan manusia. 

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

SEBELUM saya lanjut menulis naskah sederhana ini, saya wajib memohon maaf kepada para teolog dan agamawan, bahwa dengan kedangkalan daya iman saya nekad berikhtiar menghayati makna iman. Dengan sendirinya serta merta penghayatan saya terhadap makna iman sudah barang tentu hasilnya dangkal demi menghindari istilah ngawur. 

Agar tidak terlalu ngawur, saya menyimak apa kata Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang iman sebagai berikut : n 1 kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya: -- tidak akan bertentangan dengan ilmu; 2 ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin; beriman/ber·i·man/ v mempunyai iman (ketetapan hati); mempunyai keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa; berimankan/ber·i·man·kan/ v percaya kepada; mengimani/ meng·i·mani/ v meyakini dan mempercayai: sampai mati ia tetap ~ agamanya; keimanan/ke·i·man·an/ n keyakinan; ketetapan hati; keteguhan hati: kita wajib memperkuat ~ kita kepada Allah.

Dari pemaknaan KBBI terhadap kata iman tersebut, saya memberanikan diri menyimpulkan bahwa kata iman sangat erat hubungannya dengan keyakinan yang bersifat fundamentalis maka dogmatis. Keyakinan tidak bisa sebab tidak layak diperdebatkan apalagi diganggu-gugat.

Keyakinanmu keyakinanmu, keyakinanku keyakinanku sesuai sabda Gus Dur “gitu aja kok repot”.  Berarti keimananmu keimananmu, keimananku keimananku, keimanannya keimanannya, keimanan kami keimanan kami, keimanan mereka keimanan mereka. 

Memang pada hakikatnya keimanan merupakan hak asasi paling asasi milik setiap insan manusia yang bukan untuk diperdebatkan namun untuk dihayati oleh setiap insan manusia, termasuk saya. Adalah kewajiban asasi setiap insan manusia termasuk saya untuk memahami demi menghormati dan menghargai keimanan setiap insan manusia. 

Apalagi sebagai umat Nasrani, saya wajib senantiasa bahkan niscaya ingat pada ajaran Jesus Kristus tentang Jangan Menghakimi. Saya serahkan sepenuhnya tugas menghakimi kepada para penegak hukum. 

Mengingat satu di antara contoh yang ditampilkan KBBI adalah iman tidak akan bertentangan dengan ilmu  serta pemaknaan KBBI bahwa iman juga berarti ketetapan atau keteguhan hati, maka saya memberanikan diri menarik kesimpulan bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa keyakinan.

Dengan keraguan mustahil manusia mampu hidup tenteram akibat selalu merasa ragu apakah makanan yang dimakan dan minuman yang diminum dijamin tidak mengandung racun. Apalagi udara yang dihirup ketika kita bernafas dijamin tidak mengandung gas beracun seperti yang dilakukan Nazi terhadap kaum Yahudi di kamp konsentrasi Auschwitz dan Buchenwald. Tanpa keyakinan bahwa kursi yang sedang atau akan saya duduki mampu menopang berat badan saya, mustahil saya berani duduk.

Seorang ateis silakan mengaku dirinya tidak percaya agama dan Tuhan, namun mustahil dirinya tidak percaya pada apapun. Seorang saintis sejati mustahil tidak punya keimanan terhadap sains.

Seorang matematikawan sejati mustahil mampu lanjut berpikir secara matematis apabila tidak memiliki keimanan yang teguh terhadap aksioma 2+2=4 apalagi minus 2 dikalikan minus 2 mau tidak mau, suka tidak suka, hasilnya wajib sama dengan plus 4.

Bahkan mulai dari kalkulator sampai KB (Kecerdasan Buatan) yang saya lebih suka istilahnya ketimbang AI (ARTIFICIAL Intelligence) juga diprogram alias dipaksa oleh manusia untuk beriman aritmatikal demi ikut tunduk pada aksioma alias dogma bahwa -2X-2=4 . AMIN.

 


Eksodus Nasrani dari Yerusalem

Sebelumnya

Ukuran Panjang dan Berat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana