Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Lembaga Pemelajaran Kemanusiaan
SETELAH terpesona dongeng putri duyung yang konon gadis cantik jelita kakinya terbungkus ekor ikan, saya coba menelaah satwa yang disebut sebagai dugong. Ternyata dugong lebih mirip sapi berenang daripada putri laut. Tidak ada sisir dari tulang ikan, tidak ada suara nyanyian merdu. Yang ada: moncong tumpul, kumis kaku, dan perut buncit yang terus mengunyah rumput laut sambil lirih menggerutu tak jelas tentang apa.
Nama ilmiahnya: Dugong dugon. Satu-satunya anggota famili Dugongidae yang masih hidup. Sepupunya, Sapi Laut Steller, sudah punah diburu 1768.
Seperti Paus, Dugong bukan ikan. Dia mamalia. Menyusui, berdarah panas, bernapas pakai paru-paru. Jadi tiap 3-5 menit dia harus naik ke permukaan buat "ngambil napas". Bayangkan sapi harus nongol tiap beberapa menit kalau makan di sawah. Panjang 2,5 - 3 meter. Berat 250 - 400 kg. Kulitnya tebal, abu-abu kecoklatan, penuh goresan dan teritip. Tidak cantik. Tapi punya mata kecil yang tenang.
Keunikan terbesar: bibirnya. Bibir atasnya besar, turun ke bawah seperti moncong sapi. Di dalamnya ada rambut sensor yang kaku. Fungsinya buat "merumput" di dasar laut.
Makanan dugong 100% rumput laut. Karena itu dia disebut sea cow. Sehari dia bisa makan 30-40 kg lamun. Dia jalan di dasar laut yang dangkal, 10 meter saja, sambil mengembur lumpur cari akar lamun paling bergizi.
Karena makannya pelan, renangnya juga pelan. 10 km/jam saja sudah ngos-ngosan. Sifatnya soliter atau berpasangan ibu-anak. Jarang berkelompok besar. Kalau ketemu manusia dia tidak lari, tidak menyerang. Dia cuma diam lalu menyelam pelan. Mungkin karena itu dulu nelayan mengira dia “putri laut” yang pemalu.
Betina hamil 13 bulan. Melahirkan 1 anak. Menyusui 18 bulan. Baru punya anak lagi 3-7 tahun kemudian. Makanya populasinya susah pulih kalau di Duyung.
Pelayar Arab, India, Eropa dulu berbulan-bulan di laut. Saat kehausan dan kesepian, dari jauh mereka lihat punuk dugong betina menyusui anaknya. Dari atas, ekornya yang mendatar mirip ekor ikan. Lengan depannya seperti tangan.
Matanya sayu. Otak manusia yang kesepian akan mengisi kekosongan dengan dongeng. Maka lahirlah cerita putri duyung: setengah manusia, setengah ikan, suaranya merdu. Padahal suara asli dugong: cipratan air dan gerutuan pelan saat makan.
Dugong tidak diburu tombak lagi. Ancaman terbesar sekarang:
1. Jaring nelayan. Dia terjerat dan tenggelam karena tidak bisa naik bernapas.
2. Perahu cepat. Balapannya ditabrak propeller.
3. Rumput lautnya mati. Limbah dan reklamasi merusak padang lamun.
IUCN sudah masukkan dugong ke status "Rentan". Di Indonesia populasinya tersebar dari Sabang sampai Papua, tapi jumlahnya sedikit.
Dugong mematahkan dongeng. Dia tidak cantik, tidak nyanyi, tidak punya istana karang. Tapi dia guru kesabaran. Hidupnya sederhana: makan, bernapas, berenang, menjaga padang lamun tetap pendek agar ikan kecil bisa tumbuh.
Mungkin manusia butuh dongeng putri duyung. Tapi laut butuh sapi yang mau mengunyah rumputnya pelan-pelan. Kalau padang lamun habis, ekosistem terganggu dan duyung dalam dongeng pun akan kehilangan rumahnya.
Jaga lautnya. Biar sang Putri Duyung tetap punya tempat pulang.



KOMENTAR ANDA