Jika lepas kendali, tidak mustahil kejang diafragma berdampak fatal!
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
BERDASAR penelitian Pusat Studi Kelirumologi dapat disimpulkan satu di antara sekian banyak kekeliruan parah adalah anggapan bahwa tertawa itu sehat. Di sisi lain, bedasar hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat studi Humorologi dapat disimpulkan bahwa tertawa memang sehat tetapi tidak selalu sehat.
(Humorologi memiliki cabang yang meneliti tertawa yang disebut Gelomologi oleh para pemuja bahasa dan peradaban Yunani kuno atau Risusomologi oleh para pemberhala bahasa Latin alias peradaban Romawi kuno)
Apa pun yang berlebihan rawan menjadi tidak baik. Tertawa secara berkelanjutan (sustainable laughter) sehingga berlebihan (excessive laughter) potensial berdampak tidak sehat bahkan fatal semisal gejala akhir Multiple Sceleoris (MS). MS adalah penyakit autoimun yang mempengaruhi sistem saraf pusat, dan satu di antara gejalanya bisa berupa gangguan pada kontrol otot, termasuk otot diafragma yang digunakan untuk bernapas.
Tertawa yang tidak terkontrol potensial memicu kejang diafragma yang rawan merusak saraf yang mengontrol otot sekat rongga badan. Jika lepas kendali, tidak mustahil kejang diafragma berdampak fatal!
Secara psikososiokultural, tertawa juga bisa berdampak tidak sehat. Semisal sebaiknya kita jangan tertawa apalagi terbahak-bahak tatkala menghadiri upacara pemakaman sementara sanak-keluarga jenazah yang dimakamkan sedang menangis tersedu-sedu. Senyum pun jangan!
Di sisi lain ketika kita sedang menghadiri sebuah pertemuan resmi di mana seorang pejabat tinggi sedang berkisah lelucon yang dia anggap lucu adalah lebih bijak kita ikut tertawa meski sebenarnya lelucon sang pejabat tinggi sama sekali tidak lucu. Jika kita tidak ikut tertawa berarti kita merusak suasana pertemuan resmi tersebut.
Tertawa juga bisa tidak sehat karena kontagius alias bisa menular. Saya pernah diundang menghadiri pergelaran kabaret dalam bahasa Prancis padahal saya tidak menguasai bahasa yang lafal dan tulisannya kerap (menurut saya yang lebih terbiasa dengan bahasa Indonesua) luar biasa membingungkan.
Maka semula saya tidak tertawa akibat tidak mengerti apa yang sedang dilucukan di panggung kabaret dalam bahasa Prancis. Demi menjaga reputasi sebagai seorang budayawan berselera tinggi, saya harus mengambil langkah nyata yaitu tertawa justru pada saat hadirin sedang berhenti tertawa.
Semula hadirin terdiam namun saya makin gigih tertawa justru pada saat mereka sedang tidak tertawa. Lambat tapi pasti satu persatu hadirin mulai ikut tertawa pada saat saya tertawa karena tidak mau kalah melawan saya dalam hal citra berselera kebudayaan tingkat tinggi.
Akhirnya segenap hadirin ikut tertawa pada saat saya tertawa tanpa peduli apa yang dilakukan oleh para artis kabaret di atas panggung. Menarik bahwa semula para kabaretis terdiam akibat gagal paham tentang paduan suara tertawa hadirin yang justru tertawa tatkala tidak ada yang sedang berusaha melucu di panggung.
Setelah paham bahwa permasalahan terletak pada pencitraan bukan soal humor maka para kabaretis berhenti melucu demi bergabung ke dalam paduan tertawa bersama hadirin. Alhasil suasana menjadi hiruk-pikuk penuh gelak tawa padahal di panggung sama sekali tidak ada yang sedang melucu.
Di panggung pergelaran humor, lazim penyelenggara menyewa tukang tertawa yang bertugas tertawa atas aba-aba penyelenggara sehingga seluruh hadirin ikut tertawa meski sebenarnya tidak paham apa yang sedang terjadi di panggung. Saya punya banyak teman yang mencari tambahan nafkah sebagai tukang tertawa dan tepuk-tangan bayaran pada acara-acara show di stasiun TV membela yang bayar!
Jika kita cermat mengamati perilaku para penonton pergelaran stand up comedy di Indonesia maka tampak jelas bahwa para penonton sebenarnya tertawa bukan karena lawakan sang komedian yang memang kerap tidak lucu namun lebih karena sekadar khawatir dianggap memiliki selera humor bermutu kalah tinggi ketimbang ketinggian selera humor para penonton lain-lainnya.
Hahahahahahahahaha…




KOMENTAR ANDA