Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memakan korban jiwa dan mengganggu sektor penerbangan sipil. Bandara Internasional Kuwait (KWI) menjadi target terbaru dari eskalasi konflik regional yang sedang berlangsung. Fasilitas penerbangan utama negara tersebut dilaporkan terkena serangan pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan oleh pihak Iran.
Serangan udara tersebut terjadi sebagai bentuk aksi balasan atas serangan semalam yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat terhadap Iran. Mengingat Kuwait merupakan salah satu sekutu utama AS di kawasan Teluk, wilayahnya pun turut menjadi sasaran retaliasi. Selain serangan pesawat nirawak, beberapa fasilitas di Kuwait juga dilaporkan dihantam oleh serangan rudal.
Dampak dari serangan ini sangat fatal bagi warga sipil yang berada di lokasi kejadian. Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa insiden tersebut menyebabkan lebih dari 60 orang mengalami luka-luka. Selain itu, satu korban jiwa dilaporkan meninggal dunia di tempat akibat ledakan yang terjadi di area bandara.
Korban meninggal dunia tersebut berhasil diidentifikasi sebagai seorang warga negara India. Menanggapi tragedi ini, Kementerian Luar Negeri India langsung mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras serangan tersebut. Pemerintah India mendesak semua pihak yang terlibat konflik untuk tidak menjadikan populasi dan infrastruktur sipil sebagai target militer.
Serangan drone ini menyebabkan kerusakan yang cukup parah, terutama pada infrastruktur Terminal Satu Bandara Internasional Kuwait. Guna mengantisipasi serangan susulan dan menjaga keselamatan penerbangan, otoritas penerbangan Kuwait sempat mengambil keputusan tegas untuk menutup ruang udara mereka secara total bagi seluruh penerbangan komersial.
Akibat penutupan ruang udara tersebut, gelombang pengalihan penerbangan (divert) terjadi secara massal di kawasan Teluk. Puluhan pesawat yang tengah menuju Kuwait terpaksa dialihkan ke bandara alternatif di negara tetangga. Salah satu titik pengalihan utama bagi pesawat-pesawat tersebut adalah Bandara Dammam di Arab Saudi.
Meskipun mengalami kerusakan serius, otoritas Bandara Internasional Kuwait bergerak cepat untuk melakukan pemulihan operasional. Ruang udara Kuwait kini telah dibuka kembali, dan Terminal Empat bandara tersebut dijadwalkan untuk memulai aktivitas penerbangan secara bertahap. Kendati demikian, jadwal penerbangan di bandara ini masih mengalami disrupsi yang sangat masif.
Maskapai nasional Kuwait Airways sempat menghentikan seluruh operasionalnya sesaat setelah penutupan ruang udara diberlakukan. Penghentian mendadak ini memberikan dampak domino yang besar bagi para pelancong di Timur Tengah. Berdasarkan data penerbangan, Kuwait Airways menguasai hampir separuh dari total jadwal keberangkatan harian di bandara tersebut.
Menurut data analitik penerbangan dari Cirium, sebenarnya terdapat total 92 jadwal keberangkatan dari Bandara Kuwait. Kuwait Airways memegang porsi terbesar dengan 42 penerbangan (46%), disusul oleh maskapai bertarif rendah Jazeera Airways dengan 34 penerbangan (37%). Sisanya merupakan penerbangan dari belasan maskapai internasional lainnya seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad.
Hingga berita ini diturunkan, data dari FlightAware mencatat sedikitnya 13% penerbangan Kuwait Airways mengalami keterlambatan (delay), dan angka ini diperkirakan masih akan melonjak. Untuk meringankan beban para penumpang yang terdampak, Kuwait Airways telah menerapkan kebijakan penyesuaian fleksibel dengan membebaskan seluruh biaya pembatalan maupun perubahan jadwal (rebooking) khusus untuk penerbangan hari ini.




KOMENTAR ANDA