post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Tapi naskah ini bukan pembelaan membabi buta. Mengkritik kritik perlu sebagai bedah logika mereka biar adil.

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

“MATEMATIKA rekreasi? Kerjaan orang kurang kerjaan! Much ado about nothing. Masih banyak masalah lebih penting semisal stunting, jalan rusak, utang negara, IKN, korupsi dan rupiah turun terus-menerus terhadap us dolar. Mikir 2701 jadi 6174 itu mubazir.” Itu kritik kaum radikal pragmatis.

Tajam, jujur, dan perlu didengar. Tapi naskah ini bukan pembelaan membabi buta. Mengkritik kritik perlu sebagai bedah logika mereka biar adil.

Kritik utama: “nggak langsung kenyangin perut = nggak guna”. Standar ini berbahaya kalau jadi totaliter. Roda, listrik, teori bilangan dulu juga diejek “mainan nggak guna”.

Euler main graf Jembatan Königsberg karena gabut, 200 tahun kemudian jadi algoritma Google Maps. Matematika rekreasi lewat contoh Kaprekar 2701 → 7210-0127=7083 → 8730-0378=8352 → 8532-2358=6174 nggak kasih uang.

Tapi ia ngasah 3 hal yang dunia krisis butuhkan: logika, kesabaran, mental nggak gampang menyerah. Ceteris paribus dunia nyata lupa: solusi besar lahir dari otak yang terlatih main. Homo ludens!

“Pemboros itu saudara setan” — benar. Tapi mubazir bukan sinonim “main”.

Mubazir = habiskan sumber daya tanpa manfaat + melupakan prioritas. Otak yang 24 jam dipaksa mikir stunting, korupsi, banjir akan burnout dan akhirnya nggak mikir apa-apa. Jihad al-nafs butuh jeda. Matematika rekreasi itu jeda jujur: nggak ngaku “aku solusi”, cuma bilang “aku vitamin rasa ingin tahu”. Menuduh semua main sama kelirunya dengan bilang semua kerja = ibadah. Niat dan efeknya yang diuji.

Kritik radikal bilang: “Realitas itu keras, pikiran harus tunduk ke luka dunia”. Setuju. Tapi manusia bukan robot solusi. Kalau rasa ingin tahu, rasa kaget, rasa lucu dibunuh atas nama “darurat”, yang tumbuh bukan pejuang, tapi mesin sinis.

Ojo dumeh bukan berarti jangan bermain tetapi jangan terkebur. Ojo dumeh artinya bisa rumangsa : sadar kapasitas dan sadar prioritas. Peradaban yang adil dan beradab bukan cuma yang bisa merasakan penderitaan, tapi yang masih mau ketawa sambil gigih mencari jalan keluarnya.

Jadi kritik atas kritik ini muaranya sama: setuju sama kaum radikal soal urgensi. Tapi tolak cara mereka membunuh ruang bermain akal. Martin Gardner dan Ian Stewart kayaraya karena menulis buku-buku mnatematika rekreasi.

Lain orang, lain hobi. Maka saya tidak hobi main golf, game, judi, dan minum alkohol, sebab  semua itu bisa dihindari. Kalau mau!

Semua hobi wajib lolos 2 ujian: 1. Tidak bikin mudarat ke diri/orang. 2. Tidak bikin lalai prioritas utama. Karena yang dihisab bukan hobimu. Tapi niat dan dampak hobimu.

 


Don’t Cry For Me, Indonesia

Sebelumnya

USD Tembus Rp 18.000

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana