Buktinya, setiap kali kita baca dua mahapuisi itu, Chairil hidup lagi di dada kita.
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
NAMA: Chairil Anwar
Lahir : Medan, 26 Juli 1922
Wafat: Jakarta, 28 April 1949, umur 26 tahun karena TBC
Julukan: Si Binatang Jalang, Bapak Puisi Modern Indonesia
Latar: Anak bangsawan Minang, pindah Jakarta 1940. Hidup keras: miskin, ngopi, ngrokok, baca buku sampai pagi di kamar kontrakan.
Karya kunci: Aku, Cemara, Derai-Derai Cemara, Krawang-Bekasi
Angkatan: Angkatan 45.
Dia patahin pola Pujangga Baru yang rapi. Sumpahnya: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”
Chairil Anwar hanya hidup 26 tahun saja, 4 tahun menulis. Tapi bahasa Indonesia tidak pernah sama lagi setelah dia.
Sebelum Chairil, puisi adalah pantun rapi, kata manis, rima wajib. Chairil datang bawa kata jalanan, bahasa Belanda, napas pendek. Dia bilang: puisi harus jujur, walau sakit.
Hidupnya sama dengan puisinya. Liar, nggak mau diatur, nggak mau minta belas kasihan. Mati miskin di RS Cikini, tapi ninggalin warisan yang bikin anak SMA 2026 masih hafal puisinya.
Jika dibaca berdampingan, “Aku” 1943 dan “Cemara” 1949 itu kayak dua foto Chairil: yang muda ngamuk, yang tua pasrah. Bedanya bisa disusun satu-satu begini:
1. Nada: “Aku” ngamuk dan menantang kematian dengan “Tak perlu sedu sedan itu”, sementara “Cemara” lirih dan menerima dengan “Berdiri menanti dan berdoa”.
2. Posisi “Aku”: Di “Aku” subjeknya berdiri tegak sebagai “binatang jalang dari kumpulannya terbuang”, tapi di “Cemara” subjeknya melebur jadi pohon yang cuma “bercinta dengan angin”.
3. Sikap ke Tuhan: “Aku” menolak diratapi Tuhan lewat “Tidak juga kau”, sedangkan “Cemara” justru memohon “Sekali seumur/Sekali di hidup”.
4. Ritme: “Aku” menghantam dengan kata pendek dan “Aku” yang diulang 17x kayak pukulan drum, berbanding “Cemara” yang mengalun panjang lewat pengulangan “derai-derai” seperti bisikan napas.
5. Citra alam: “Aku” memperlakukan alam sebagai arena perang: “terjangan dan tempuh”, tapi “Cemara” menjadikan alam sebagai teman curhat: “derai-derai cemara meraung seperti derita”.
6. Estetika: “Aku” menganut estetika ekspresionis yang meludahi luka ke kertas, berbanding “Cemara” yang memakai estetika simbolis yang membisikkan luka ke angin.
Titik temunya cuma satu: sama-sama “sendiri”. “Aku” sendiri karena milih keluar barisan, “Cemara” sendiri karena ditinggal barisan. Senjata Chairil ganti: muda pakai api, tua pakai angin. Tapi kejujurannya nggak pernah ganti.
Chairil memberi pelajaran bagi kita dua hal sekaligus: berani hidup dan berani mati. “AKU” ngajarin hidup itu terjang, jangan nunduk. “Cemara” ngajarin mati itu tenang, jangan takut.
Dia wafat umur 26, tapi sumpahnya kejadian: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Buktinya, setiap kali kita baca dua mahapuisi itu, Chairil hidup lagi di dada kita.




KOMENTAR ANDA