post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Sayangnya, data baseline kesehatan anak sebelum MBG masih tambal-sulam. Tanpa garis start yang jelas, garis finish jadi ilusi.

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

PROGRAM Makan Bergizi Gratis, atau MBG, digulirkan dengan ambisi besar berniat bagus: cegah stunting, naikkan prestasi belajar, dan selamatkan generasi emas 2045. Tapi ambisi tanpa pengukur yang jujur cuma jadi wacana berbumbu gizi.

Pertanyaannya: MBG ini kinerjanya diukur pakai apa? Timbangan, atau timbang rasa? Diukur pakai kira-kira?

Yang paling gampang diukur: berapa porsi terdistribusi, berapa dapur jalan, berapa anggaran terserap. Angka itu cantik di slide presentasi. Tapi outcome yang penting bukan jumlah nasi, melainkan tinggi badan anak, skor anemia, nilai ujian dan keamanan anak menyantap MBG.

Kalau porsi naik tapi stunting stagnan, berarti yang kenyang hanya laporan, bukan anaknya. Sayangnya, data baseline kesehatan anak sebelum MBG masih tambal-sulam. Tanpa garis start yang jelas, garis finish jadi ilusi.

Kinerja MBG gampang jatuh ke jebakan kuantitas “yang penting kebagian”. Menu sesuai AKG di atas kertas, realitanya? Nasi basi, lauk minim protein, sayur layu karena rantai dingin nggak jalan.

Pengukurannya jadi bias: sukses = piring kosong. Padahal piring kosong bisa karena lapar, bisa juga karena anak sudah bosan ngunyah menu yang sama 180 hari. Survei penerimaan, food waste, dan audit gizi independent serta higienitas dapur MBG harus jadi metrik wajib, bukan pajangan.

Rp71 triliun bukan angka kecil. Tapi kinerja MBG juga harus diukur dari “berapa rupiah untuk berapa gram protein yang masuk ke mulut anak”. Kalau rantai pasok bocor di tengah, harga bahan baku digoreng, atau dapur yayasan siluman yang tidak memenuhi syarat minimal higienitas, maka MBG berubah jadi “Makan Buat Sandiwara” birokrasi.

Kita butuh dashboard publik: harga beli, harga masak, harga antar, real time. Tanpa transparansi, skeptis publik wajar. Jangan sampai B yang seharusnya Bergizi diplesetkan menjadi Basi atau Busuk bahkan Beracun.

Kinerja sejati terlihat setelah sorotan kamera padam. Apa dapur MBG tetap jalan saat APBN diperketat? Apa petani lokal benar dapat pasar, atau impor bahan baku yang menang?

Ukur juga dampak ke ekonomi dapil: penyerapan tenaga kerja lokal, penurunan sampah plastik, dan ketergantungan fiskal daerah. Kepala BGN yang baru langsung sidak maka marah-marah atas higienitas dapur MBG . Bagus. Semoga bukan sekadar sapu baru menyapu bersih.

Negara maju tidak malu mengagui programnya gagal, asal cepat diperbaiki. Kita butuh MBG yang berani diukur pakai indikator pahit: tinggi badan, kadar hemoglobin, angka putus sekolah, murid happy, ortu juga bahagia anaknya tidak keracunan MBG. Kalau yang dipajang cuma foto pejabat suapin anak, maka MBG sukses sebagai konten, gagal sebagai kebijakan. 

MBG boleh ambisius, rakyat berhak skeptis. Karena yang kita kejar bukan program hebat,serta jelas bukan korupsi kelas hebat, tetapi anak-anak hebat! Merdeka!


Kelirumologi Tafsir

Sebelumnya

Mengenang Chairil Anwar

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana