post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Dalam beberapa kasus, ketiadaan chatra tersebut diduga akibat kerusakan alam atau pelapukan selama berabad-abad.

Oleh: Selwa Kumar, Budayawan dari Universitas Sumatera Utara

DALAM arsitektur Buddhis, stupa—atau yang dalam Bahasa Pali disebut thūpa—merupakan bangunan suci yang awalnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan relik (sisa jasmani) Buddha atau para murid agungnya.

Selain fungsi relik, stupa dengan cepat berkembang menjadi simbol kosmologis dan spiritual yang mewakili perjalanan menuju Nibbāna (pencerahan sempurna). Secara arsitektural, sebuah stupa pada umumnya memiliki tiga bagian utama: (1) bagian dasar setengah bola yang disebut anda (telur kosmis); (2) kotak persegi di atas anda yang dikenal sebagai harmika (dari kata harmya, yang berarti “istana” atau “kamar”—melambangkan alam para dewa); (3) sebuah tiang (yasti) yang muncul dari harmika; dan di puncak tiang inilah chatra atau payung bertingkat dipasang.

Secara simbolik, stupa merepresentasikan batin Buddha yang telah tercerahkan dan sepenuhnya terbebas. Oleh karena itu, strukturnya tidak hanya bersifat fisik tetapi juga metaforis: anda melambangkan langit/lengkung alam semesta; harmika melambangkan singgasana para dewa; yasti melambangkan poros alam semesta; sementara chatra merupakan simbol paling atas yang menaungi keseluruhannya.

Makna Filosofis Chatra

  • Chatra (Sanskerta; Pali: chatta) secara harfiah berarti “payung” atau “pelindung”. Dalam tradisi Asia Selatan kuno, payung merupakan salah satu dari empat belas benda keberuntungan dan secara eksklusif dikaitkan dengan kedaulatan seorang Cakravartin (Raja Penguasa Dunia) serta penghormatan terhadap para dewa dan tokoh suci. Dalam konteks Buddhis, chatra yang berada di puncak stupa membawa beberapa lapis makna:
  • Perlindungan spiritual: Chatra secara metaforis menaungi umat dari bahaya duniawi dan kegelapan batin. Dalam Mucalindasutta (Udana II), payung disebut sebagai simbol yang melindungi Sang Buddha dari panas dan hujan, sekaligus gambaran keteduhan Dhamma.
  • Kehormatan tertinggi: Pemasangan chatra pada stupa melambangkan bahwa Dhamma yang diajarkan Buddha layak dihormati sebagai “yang tertinggi di antara segala yang ada”, setara dengan penghormatan yang diberikan kepada seorang Cakravartin.
  • Kesatuan unsur spiritual: Menurut Bhante Ditthisampanno, chatra secara simbolis mewujudkan kesatuan berbagai unsur spiritual yang memperkuat keyakinan umat Buddha.
  • Tahapan pencerahan: Dalam tradisi Mahayana dan Tantrayana, terdapat pemaknaan yang lebih terstruktur. Chatra yang “terbaik” terdiri dari tiga belas lapis tingkatan: sepuluh lapis terbawah melambangkan sepuluh tingkatan pencerahan seorang bodhisattva (bhumi), sementara tiga lapis teratas mewakili tiga kesadaran Buddha yang sempurna, damai, dan tentram. Di atas ketiga belas lapis tersebut, puncak payung melambangkan welas asih (karuna) yang mengayomi semuanya.

Apakah Stupa Wajib Memiliki Chatra?

Pertanyaan kritis yang muncul: apakah sebuah stupa harus dilengkapi dengan chatra? Dari sudut pandang teks-teks Buddhis awal seperti Suttavibhaṅga dan Cullavagga, tidak ditemukan keharusan mutlak bahwa setiap stupa harus memiliki chatra di puncaknya. Chatra baru muncul secara eksplisit sebagai elemen arsitektural pada periode selanjutnya, terutama di bawah pengaruh kosmologi Buddha dan adaptasi dari simbol-simbol kerajaan India (terutama pada masa Kekaisaran Maurya dan Sunga).

Secara arkeologis, ditemukan pula stupa-stupa penting di anak benua India yang wujudnya—saat ditemukan—tidak memiliki chatra. Dalam beberapa kasus, ketiadaan chatra tersebut diduga akibat kerusakan alam atau pelapukan selama berabad-abad. Namun dalam kasus lain, para arkeolog meyakini bahwa stupa tersebut memang sengaja didirikan tanpa chatra, baik karena keterbatasan anggaran, perbedaan tradisi lokal, maupun karena fungsi stupa yang bersifat peringatan semata dan bukan sebagai tempat relik utama.

Contoh menarik adalah stupa-stupa di kompleks Sarnath selain Dhamekh, serta beberapa stupa kecil di Sanchi yang tidak dilengkapi chatra di puncaknya. Fakta ini menunjukkan bahwa chatra tidak selalu menjadi “bagian tak terpisahkan” dari sebuah stupa. Alih-alih, chatra merupakan elemen yang fungsinya lebih bersifat simbolis-penghormatan (bahwa Dhamma yang dilambangkan stupa patut dihormati sebagai “payung pelindung”) ketimbang menjadi persyaratan mutlak.

Studi Kasus: Stupa Dhamekh

Stupa Dhamekh (juga dieja Dhamek atau Dhamekha) yang terletak di Taman Rusa (Mrigadava), Sarnath, Uttar Pradesh, India—tepatnya di lokasi pertama kali Sang Buddha membabarkan Dhamma (khotbah pertama tentang Dhammacakkappavattana Sutta) kepada lima orang petapa—merupakan salah satu dari delapan tempat tersuci dalam ziarah Buddhis.

Stupa Dhamekh saat ini berwujud bangunan silindris masif yang terbuat dari bata dan batu. Tingginya sekitar 43,6 meter dan berdiameter 28 meter, menjadikannya struktur paling besar di Sarnath. Stupa ini pertama kali didirikan oleh Kaisar Ashoka pada tahun 249 SM, kemudian direnovasi dan dibangun ulang pada abad ke-5 hingga ke-6 Masehi (periode Gupta) menjadi bentuk silindris yang kita lihat saat ini.

Pertanyaan yang menarik untuk diajukan: apakah Stupa Dhamekh memiliki chatra? Dokumentasi arkeologis dan gambar-gambar sejarah serta foto-foto kontemporer Stupa Dhamekh memperlihatkan bahwa stupa ini—dalam wujudnya saat ini—tidak memiliki chatra di puncaknya. Permukaan atas stupa tampak datar atau tidak terdapat struktur payung bertingkat.

Namun, para arkeolog meyakini bahwa Stupa Dhamekh pada masa jayanya (sekitar abad ke-5 M) mungkin pernah memiliki semacam harmika dan yasti dengan chatra yang terbuat dari kayu atau logam mulia yang telah lapuk atau dijarah.

Tidak adanya bukti fisik yang meyakinkan—seperti sisa-sisa tiang atau cakram batu—membuat banyak peneliti cenderung menyatakan bahwa Stupa Dhamekh saat ini bukanlah representasi penampilan aslinya; namun, tidak dapat disangkal bahwa wujud yang ada sekarang ini tanpa chatra telah diterima secara luas sebagai “wujud Stupa Dhamekh” yang otentik oleh para peziarah dan arkeolog modern.

Perbandingan dengan Stupa Induk Borobudur

Ada pihak yang menyebutkan bahwa Stupa Dhamekh sangat mirip dengan stupa utama Candi Borobudur, dan mempertanyakan apakah stupa Borobudur kemungkinan dibangun berdasarkan inspirasi dari wujud Dhamekh. Mari kita periksa secara kritis.

Stupa induk Borobudur—yang terletak di Arupadhatu (tingkat tanpa wujud) di puncak monumen, berdiameter sekitar 9,9 meter dan tinggi 7 meter berada pada ketinggian 42 meter di atas tanah—berbentuk seperti genta atau lonceng terbalik yang tidak memiliki lubang terawang.

Stupa induk Borobudur saat ini tidak dilengkapi chatra, dan para ahli seperti Prof. Dr. Soekmono menyatakan bahwa stupa induk Borobudur dalam sejarahnya memang tidak memiliki chatra, meskipun terdapat relief-relief di Candi Borobudur sendiri yang menggambarkan stupa dengan chatra.

Persamaan antara Stupa Dhamekh dan Stupa Induk Borobudur:

  • Keduanya silindris – Dhamekh berbentuk silinder yang menjulang tinggi; Borobudur berbentuk genta/berlambang lengkung dengan perbandingan tinggi-diameter yang tidak proporsional sama.
  • Keduanya tidak (saat ini) memiliki chatra – Ini adalah titik temu penting.
  • Keduanya berlokasi di tingkat tertinggi kompleks masing-masing – Dhamekh di Sarnath dan Borobudur sebagai puncak dari mandala tiga tingkat.

Namun, perbedaannya sangat mendasar:

  • Dhamekh adalah stupa tunggal yang berdiri sendiri, sementara stupa induk Borobudur adalah puncak dari struktur bertingkat yang sangat rumit dan terintegrasi dengan lebih dari 70 stupa pendamping yang lebih kecil.
  • Periodisasi dan gaya arsitektur – Dhamekh (bentuk akhir dari abad ke-5 M) merupakan hasil renovasi Gupta di atas fondasi Ashoka (249 SM), sementara Borobudur dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi (masa Dinasti Sailendra di Jawa Tengah), dengan pengaruh seni dan kosmologi Mahayana serta Tantrayana yang berbeda dari tradisi India Utara abad ke-5.
  • Ketiadaan chatra pada keduanya kemungkinan disebabkan oleh faktor yang berbeda – Dalam kasus Dhamekh, ketiadaan chatra mungkin akibat kerusakan atau penjarahan; dalam kasus Borobudur, berdasarkan argumen para arkeolog seperti Soekmono dan Hari Setyawan, stupa induk Borobudur tidak pernah memiliki chatra karena fungsinya sebagai representasi Dharmakāya (tubuh kebenaran Buddha yang melampaui segala bentuk materi) yang justru sengaja “polos” dan tanpa atribut.

Jadi, pernyataan bahwa Stupa Dhamekh “sangat mirip” dengan stupa utama Borobudur perlu diterima dengan hati-hati. Kemiripan hanya pada tataran paling umum: kedua stupa tidak memiliki chatra saat ini dan sama-sama tidak berlubang. 

Namun secara proporsi, material, konteks arsitektural, dan filosofi yang mendasarinya, keduanya berbeda. Tidak ditemukan bukti langsung yang meyakinkan bahwa para arsitek Borobudur abad ke-9 terinspirasi secara langsung oleh wujud Dhamekh abad ke-5 di India. Kemiripan lebih mungkin merupakan hasil konvergensi ikonografi Buddhis pan-Asia yang melambangkan pencapaian spiritual tertinggi dengan “stupa tanpa hiasan puncak.”


Barbarians at the Wall: Tinjauan Geopolitik dan Eksistensi Bangsa

Sebelumnya

Prabowo dan Pelajaran dari “Breakout Nations”

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya