post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Polemik Pemasangan Chatra di Borobudur: Sebuah Perspektif Kontemporer

Diskusi mengenai “apakah stupa harus memiliki chatra?” bukan hanya persoalan sejarah, tetapi juga menjadi polemik kontemporer yang hangat di Indonesia. Rencana pemasangan kembali chatra (hasil rekonstruksi Theodoor van Erp dari awal abad ke-20) di puncak stupa induk Candi Borobudur memunculkan perdebatan sengit antara kubu yang mendukung (dipimpin oleh Kementerian Agama dan sebagian tokoh umat Buddha) dan kubu yang menolak (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia/IAAI, sejumlah arkeolog independen, dan pegiat warisan budaya).

Argumen pendukung (bersifat spiritual-teologis):

  • Ketiadaan chatra di stupa induk diibaratkan sebagai “raja tanpa mahkota” dan dipandang sebagai ketidaksempurnaan fungsi spiritual Candi Borobudur sebagai tempat peribadatan.
  • Chatra—dengan tiga belas lapisan pencerahan yang melambangkan perjalanan spiritual seorang bodhisattva—dianggap sebagai elemen yang melengkapi mandala Borobudur.
  • Relief-relief Karmawibhangga di Borobudur secara eksplisit menggambarkan persembahan chatra sebagai praktik pengumpulan kebajikan.

Argumen penolakan (bersifat arkeologis-konservatif):

  • Fakta relief: Hanya sembilan dari 52 relief di Borobudur yang menampilkan stupa dengan chatra; 43 relief lainnya menampilkan stupa tanpa chatra, menunjukkan bahwa ketiadaan chatra bukanlah keanehan.
  • Manipulasi van Erp: Chatra rekonstruksi van Erp dipahat berdasarkan imajinasinya dengan menyesuaikan beberapa balok batu asli yang tidak semestinya dipahat. Van Erp sendiri memasang chatra pada 1910, hanya untuk mencopotnya kembali setelah beberapa pekan karena menyadari kekeliruannya.
  • Fungsi berbeda: Chatra secara tradisional ditujukan untuk stupa perabuan (sariraka-stupa)—yang menyimpan relik—atau stupa persembahan, bukan untuk stupa Dharmakaya (tubuh kebenaran) seperti Borobudur yang melambangkan kebuddhaan itu sendiri yang tidak memerlukan atribut fisik.
  • Keaslian dan keamanan: Struktur stupa induk yang sudah sangat tua dan rapuh dinilai tidak mampu menopang beban chatra seberat 1,4 ton tanpa risiko kerusakan lebih lanjut.

Polemik ini belum selesai hingga saat ini. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2024 mengeluarkan rekomendasi teknis yang tidak menganjurkan pemasangan chatra, karena struktur stupa induk yang lemah dan isu keaslian/otentisitas. Sementara itu, Kementerian Agama dan sebagian umat Buddha terus mendorong pemasangan untuk alasan spiritual.

Analisis Kritis dan Kesimpulan

Berdasarkan pemeriksaan teks-teks Buddhis awal, bukti arkeologis dari anak benua India dan Nusantara, serta perdebatan akademis yang berlangsung, kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut:

Stupa tidak harus memiliki chatra. Tidak ada perintah kanonis yang mewajibkan setiap stupa memiliki chatra di puncaknya. Chatra adalah elemen simbolis-kehormatan yang lahir dari tradisi kerajaan India dan kemudian diadopsi ke dalam arsitektur Buddhis, namun kehadirannya bersifat “tradisional yang dianjurkan” (karena mencerminkan tingginya penghormatan terhadap Dhamma) ketimbang “wajib secara dogmatis.”

Stupa Dhamekh saat ini tidak memiliki chatra, tetapi tidak berarti ia tidak pernah memilikinya di masa lampau. Ketidakpastian arkeologis harus diakui secara jujur. Di sisi lain, Stupa Induk Borobudur kemungkinan besar memang tidak pernah memiliki chatra berdasarkan pertimbangan filosofis (sebagai Dharmakaya) dan kurangnya bukti pendukung yang meyakinkan, yang justru menjadi kekhasan dan keunikan Borobudur dibandingkan dengan stupa-stupa lain di dunia.

Kemiripan visual antara Stupa Dhamekh (tanpa chatra) dan Stupa Induk Borobudur (tanpa chatra) lebih bersifat kebetulan dan konvergensi simbolik ketimbang bukti hubungan inspirasi langsung. Keduanya mewakili pencapaian spiritual tertinggi (pencerahan Buddha/Dharmakaya) yang secara ikonografis cenderung disederhanakan bentuknya menjadi “stupa polos tanpa hiasan puncak”—sebuah kebijaksanaan estetik yang melampaui batas-batas budaya dan periode sejarah.

Dengan demikian, argumen yang menyatakan bahwa Stupa Dhamekh tidak memiliki chatra dan mempertanyakan apakah stupa Borobudur terinspirasi dari wujud Dhamekh perlu dikoreksi dengan penjelasan yang lebih bernuansa: bahwa ketiadaan chatra pada keduanya adalah fakta menarik, tetapi hubungan kausal-inspirasional tidak dapat dipastikan dan—dalam kasus Borobudur—ketiadaan chatra lebih mungkin merupakan pilihan desain yang disengaja (untuk merepresentasikan Dharmakaya) ketimbang sekadar “meniru” wujud Dhamekh yang kebetulan juga tanpa chatra.  


Barbarians at the Wall: Tinjauan Geopolitik dan Eksistensi Bangsa

Sebelumnya

Prabowo dan Pelajaran dari “Breakout Nations”

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya