post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Dan pengadaan paling hebat dalam peradaban manusia adalah bikin “yang tidak ada” menjadi paling perlu di perjalanan peradaban manusia.

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

PADA awalnya sama sekali tidak ada angka. Yang ada cuma “banyak”, “sedikit”,  “lebih”, “kurang” , “pas”. Manusia pertama tidak menghitung kambing 1, 2, 3. Dia nunjuk: “kambing sebanyak ini” sambil buka 2 tangan.  Sebelum angka ditulis, manusia memanfaatkan ragawi sendiri buat berhitung.

Masyarakat tradisional Indonesia masih menyimpan memori itu. Mereka tidak kenal “17” atau “42”, tapi punya kosakata ruang + gerak:

  • Jari: 1-10. Habis 10, pindah ke tangan orang lain. Barter 2 orang = “selesai”.
  • Tekukan jari: Tiap ruas jari jadi titik hitung. 1 tangan bisa sampe 28.
  • Jengkal, depa: Ukur panjang pake rentangan tangan. “Sawah selebar 10 depa”.
  • Genggam, jumput: Ukur isi. “Beras segenggam buat sekali masak”.
  • Simpul tali: Tiap simpul = 1 utang, 1 hari, 1 kejadian. Tali quipu Inca juga dari logika sama: simpul = data.

Jadi angka lahir dari kebutuhan: “Gue udah kasih lo berapa umbi?” “Gue harus jalan berapa jengkal ke sungai?” Angka = memori yang dibekukan.

10.000 tahun lalu, manusia bikin tanda di tulang, batu, dinding gua. 5 goresan = 5 babi hutan. Ini “angka batang”. Sumeria bikin paku di tanah liat. Mesir bikin simbol: tali = 100, bunga lotus = 1000. Masih ribet: nulis 3000 = gambar lotus 3x. 

Lompatan revolusioner terjadi 2x:

  • Bangsa Babilonia: Bikin sistem basis 60. Makanya 1 jam = 60 menit, 1 lingkaran = 360 derajat. Warisan mereka sampe sekarang.
  • India + Arab: Nemu “Nol” dan “Nilai Tempat”. Angka 2 di “20” beda nilai sama angka 2 di “200”. Nol = tempat kosong. Ini penemuan paling underrated dalam sejarah. Tanpa nol, tidak ada aljabar, tidak ada komputer, tidak ada hitungan MBG 80 juta porsi. 

Pas angka India-Arab masuk Eropa abad 10-12, gereja + pedagang pada panik. “Nol” = melambangkan “kekosongan”, dianggap pintu ateisme. Plus gampang dipalsu: 12 jadi 120 tinggal tambah nol. Banker Firenze sampe ngelarang. Baru menang pas Fibonacci bilang: “Pake ini dagang jadi gampang”. Pedagang milih cuan daripada dosa.

Indonesia kenal 2 tamu: Romawi I, V, X dari Belanda + Arab 1, 2, 3 dari pedagang/Islam. Terus kenapa yang Arab yang menang telak?

  • Kolom & Nol: Mau ngitung 1998 + 1999 pake Romawi? Jadi MCMXCVIII + MCMXCIX =... pusing. Pake angka Arab tinggal susun ke bawah. Nol bikin kolom, kolom bikin pembukuan, pembukuan bikin dagang. Pedagang Bugis, Jawa, Melayu butuh cepet, bukan estetika.
  • Sekolah Rakyat: Zaman Belanda + Orde Baru, kurikulum SD ngajarin 1 2 3. Simpel, 10 simbol doang. Romawi aturannya aneh: IV = 4, IX = 9. Anak SD langsung milih yang gampang.
  • Teknologi: Mesin ketik, kalkulator, komputer lahir bareng angka Arab. Tidak ada tombol “M” “C” “X” khusus. Keyboard QWERTY lahir buat 1 2 3. Romawi kalah telak di era digital.
  • Hasilnya: Romawi keusir ke pojokan. Sekarang cuma dipake buat jam dinding, bab buku, Olimpiade XXXIII, gelar Sultan atau Sri Paus, atau biar “kesan klasik”. Buat menghitung utang warung? Lebih praktis 1 2 3.

Masyarakat adat Papua ngajarin kita: angka bukan “pintar”, tapi “alat”. Kalau lo cuma perlu ngitung umbi sampe 20, ngapain bikin kalkulus? Sistem jari + simpul tali itu efisien, melekat di budaya. Tatkala dunia dagang, pajak, astronomi datang, “banyak-sedikit” tidak cukup. Manusia butuh bahasa universal. Lahirlah angka.

Dari genggam ke giga, dari simpul ke spreadsheet. Angka mulai sebagai cara manusia tidak lupa. Sekarang angka ngatur hidup kita: KTP, transfer, nilai ujian. Tapi tiap kali kita menghitung pake jari pas kasir tidak ada kembalian, berarti kita sedang napak tilas genesis angka. Kita lagi jadi manusia purba 0.1 detik.

Semula Angka tidak pernah ada. Angka diadakan.

Dan pengadaan paling hebat dalam peradaban manusia adalah bikin “yang tidak ada” menjadi paling perlu di perjalanan peradaban manusia.

 


Mahakarya Terbaru Spielberg

Sebelumnya

Mengukur Kinerja MBG

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana