Daya belinya menurun, tabungannya tergerus, dan perilakunya makin mirip masyarakat bawah, yakni mengutamakan bertahan hidup dan pada titik tertentu membutuhkan bantuan pemerintah.
Oleh: Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta
MENGAPA orang Indonesia tiba tiba menahan konsumsi dan memilih menebalkan tabungan, seperti tercermin dalam Survei Konsumen Bank Indonesia beberapa bulan terakhir?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya tidak bisa berhenti pada satu kalimat “masyarakat sedang berhati hati”.
Sebab yang kita hadapi bukan satu perilaku masyarakat, melainkan dua wajah Indonesia yang bergerak berlawanan arah.
Survei Konsumen BI untuk Desember 2025 mencatat proporsi pendapatan untuk konsumsi berada di 74,3 persen, sementara proporsi tabungan naik menjadi 14,9 persen.
Pada saat yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen tetap kuat di 123,5.
Sepintas ini kabar baik: masyarakat optimistis, konsumsi sedikit menurun, tabungan meningkat.
Namun angka rata rata sering seperti foto udara sebuah kota. Dari atas tampak rapi, tetapi kita tidak melihat gang sempit yang tergenang.
Masalahnya begini. Di satu sisi, kelompok menengah ke atas memang terlihat membaik.
Mereka menumpuk tabungan, memperkuat dana darurat, dan menunda belanja yang tidak wajib.
Di sisi lain, ada kelompok menengah yang sedang turun kelas.
Daya belinya menurun, tabungannya tergerus, dan perilakunya makin mirip masyarakat bawah, yakni mengutamakan bertahan hidup dan pada titik tertentu membutuhkan bantuan pemerintah.
Analogi Perahu Dua Dek
Bayangkan perekonomian sebagai perahu dua dek yang berlayar di laut yang ombaknya tidak menentu.
Penumpang di dek atas melihat langit masih cerah. Mereka memilih mengenakan jaket pelampung, menyimpan barang berharga lebih rapat, dan menunggu ombak reda sebelum berjalan ke restoran.
Itulah menengah ke atas: menahan konsumsi karena pilihan, bukan paksaan.
Sementara itu, penumpang di dek bawah mulai merasakan air masuk dari celah.
Mereka tidak punya kemewahan memilih. Mereka harus mengurangi bekal, menutup lubang, dan kadang membagi makanan agar semua selamat.
Inilah menengah yang turun kelas: menahan konsumsi karena terdesak. Pada kelompok ini, tabungan bukan sedang ditambah, melainkan dipakai untuk menambal defisit harian.
Ketika kita hanya membaca angka rata rata, kita seperti kapten yang hanya memeriksa dek atas, lalu menyimpulkan semua penumpang aman.
Mengapa Menengah Turun Kelas Itu Kritis


KOMENTAR ANDA