post image
KOMENTAR

Jika konflik AS versus Iran meningkat, medan utama bukan invasi darat, melainkan perang maritim 3D - laut, udara, siber, dan ruang angkasa informasi - di sekitar Strait of Hormuz. Sekitar 17–20 juta barel minyak per hari, hampir 20% konsumsi global, melewati jalur sempit ini. Bahkan gangguan parsial saja dapat mengguncang pasar energi dunia.

Oleh: Tommy Tamtomo, Wakil Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia

DALAM membaca dinamika konfrontasi Amerika–Iran, ada satu pola yang menarik: pendekatan kekuasaan yang terasa seperti strategi penguasaan lahan dalam bisnis properti. Kepemimpinan Donald Trump sering diasosiasikan dengan logika dunia real estate, tekan lawan, ciptakan ketidakpastian, naikkan biaya bertahan, lalu paksa kesepakatan. Dalam bisnis, pendekatan ini kerap berhasil. Namun, ketika pola yang sama diterapkan pada negara berdaulat dengan kemampuan militer asimetris, hasilnya bisa jauh lebih kompleks dan berbahaya.

 
Logika Intimidasi Sebagai Strategi

Dalam real estate, pengambilalihan lahan dilakukan dengan tekanan hukum, finansial, atau psikologis. Tujuannya bukan menghancurkan, tetapi membuat pihak lain menyerah sebelum konflik panjang terjadi. Dalam geopolitik, strategi “maximum pressure” melalui sanksi ekonomi, ancaman militer, dan demonstrasi kekuatan tampak memiliki DNA serupa: intimidasi sebagai instrumen negosiasi.

Tetapi Iran bukanlah perusahaan kecil yang dapat dipaksa menjual aset. Ia adalah negara dengan jaringan proksi regional, kedalaman geografis, serta dukungan strategis dari China dan Russia dalam aspek diplomasi, teknologi, dan ISR (intelligence, surveillance, reconnaissance). Dalam konteks ini, tekanan linear dapat menghasilkan respons non-linear.

Perang Maritim 3D dan Asimetri Biaya

Jika konflik meningkat, medan utama bukan invasi darat, melainkan perang maritim 3D - laut, udara, siber, dan ruang angkasa informasi - di sekitar Strait of Hormuz. Sekitar 17–20 juta barel minyak per hari, hampir 20% konsumsi global, melewati jalur sempit ini. Bahkan gangguan parsial saja dapat mengguncang pasar energi dunia.

Iran mengembangkan kekuatan asimetris: ribuan drone dan loitering ballistic missiles yang dirancang untuk serangan saturasi. Biaya satu drone bisa puluhan ribu dolar, sementara interceptor pertahanan udara bernilai jutaan dolar per unit. Rasio biaya yang timpang ini berarti penyerang dapat memaksa pembela menghabiskan sumber daya jauh lebih besar.

Jika dua carrier strike group Amerika memiliki sekitar 400–500 rudal interceptor siap pakai dalam konfigurasi tertentu, beberapa gelombang serangan besar dapat menguji batas pertahanan sebelum suplai ulang.

Para jenderal memahami dilema ini. Perang bukan demonstrasi kekuatan sesaat; ia adalah persoalan daya tahan.

Retorika dan Penyempitan Koalisi

Situasi regional diperumit oleh pernyataan duta besar Amerika di Israel yang menyiratkan legitimasi konsep “Greater Israel”. Retorika semacam itu mempersempit ruang diplomasi. Negara-negara Arab seperti Saudi Arabia dan Jordan berada dalam posisi sulit: mendukung penuh Washington berarti menghadapi tekanan domestik dan serangan balistik dari Iran; menolak berarti berisiko terhadap hubungan strategis jangka panjang.

Koalisi setengah hati menciptakan ketidakpastian tambahan dalam kalkulasi militer.

Tekanan Domestik dan Batas Kekuasaan

Di dalam negeri, kepemimpinan Trump juga menghadapi resistensi politik. Kebijakan imigrasi melalui U.S. Immigration and Customs Enforcement menuai kontroversi dan memperdalam polarisasi. Pada saat yang sama, keputusan Supreme Court of the United States yang membatasi penerapan tarif menunjukkan bahwa strategi tekanan ekonomi pun memiliki batas konstitusional.

Jika tarif harus dikembalikan dalam jumlah besar, tekanan fiskal meningkat. Kombinasi resistensi domestik dan risiko eksternal mempersempit ruang manuver presiden.

Kuantifikasi Risiko Global

Gangguan serius di Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak melonjak dari sekitar USD 80 menjadi USD 120–150 per barel. Dengan konsumsi global sekitar 100 juta barel per hari, kenaikan USD 40 berarti tambahan biaya energi global hingga USD 4 miliar per hari.

Bagi Indonesia, yang mengonsumsi sekitar 1,5 juta barel per hari dengan lebih dari separuhnya impor, kenaikan USD 50 per barel berarti tambahan sekitar USD 75 juta per hari—lebih dari USD 2 miliar per bulan. Dampaknya menjalar ke subsidi energi, inflasi, nilai tukar rupiah, hingga harga pangan dan transportasi.

Konflik regional berubah menjadi tekanan ekonomi nasional ribuan kilometer jauhnya.

Antara Ilusi Kontrol dan Realitas Kompleks

Pendekatan developer berangkat dari asumsi bahwa tekanan akan menghasilkan konsesi. Namun dalam konflik modern, tekanan dapat memperkuat tekad lawan. Negara seperti Iran tidak harus menang secara konvensional; cukup membuat biaya konflik tidak rasional bagi pihak lain.

Militer modern bukan alat negosiasi properti. Sekali konflik kinetik dimulai, dinamika eskalasi sering bergerak di luar kendali politik awal. Dukungan Rusia dan China, kepentingan energi Beijing yang 70–80% impor minyaknya melewati jalur rentan, serta sensitivitas kawasan Arab terhadap isu kedaulatan Palestina membuat konflik semakin multidimensional.


Forum Purnawirawan Prajurit TNI: Tanpa Mandat PBB Indonesia Harus Angkat Kaki dari Board of Peace

Sebelumnya

Insiden Bawean 2003 dan Makna Kedaulatan Udara dalam Kepentingan Nasional

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik Global