Negara tidak perlu mendorong masyarakat berhenti menabung.
Yang dibutuhkan adalah memastikan rumah tangga cukup aman untuk konsumsi normal, dan punya ruang untuk menabung tanpa mengorbankan kebutuhan dasar.
Untuk menengah ke atas, kebijakan terbaik adalah mengarahkan tabungan mereka menjadi pembiayaan produktif.
Jika tabungan hanya parkir, ekonomi kehilangan tenaga. Tetapi jika tabungan mengalir ke kredit produktif, obligasi ritel yang membiayai proyek bernilai tambah, atau instrumen yang menyalurkan dana ke UMKM yang sehat, maka tabungan menjadi bahan bakar pertumbuhan.
Untuk menengah yang turun kelas, fokusnya harus pemulihan daya beli dan pengurangan ketidakpastian.
Stabilitas harga kebutuhan pokok adalah kunci pertama. Penciptaan pekerjaan formal dengan upah layak adalah kunci kedua.
Perluasan jaring pengaman yang adaptif adalah kunci ketiga, karena banyak rumah tangga rentan baru berada tepat di atas garis bantuan tradisional. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya butuh bantalan agar tidak jatuh lebih dalam.
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan sekadar “mengapa masyarakat menahan konsumsi”.
Pertanyaan yang lebih mendesak adalah “siapa yang menahan konsumsi karena memilih, dan siapa yang menahan konsumsi karena terpaksa”.
Selama kita menyamakan keduanya, kebijakan akan terus meleset. Kita akan mengira ekonomi baik baik saja karena tabungan naik, padahal sebagian rumah tangga sedang menghabiskan tabungan untuk bertahan.


KOMENTAR ANDA