Kelas menengah adalah mesin konsumsi sekaligus bantalan stabilitas sosial.
BPS menegaskan bahwa kelas menengah dan kelompok yang menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk pada 2024 dan porsi konsumsi pengeluaran dari dua kelompok ini mencapai 81,49 persen dari total konsumsi masyarakat.
Artinya, kalau segmen ini goyah, ekonomi nasional ikut limbung.
Di sinilah kita perlu jujur membaca sinyal. Berbagai laporan menyoroti menyusutnya kelas menengah.
Reuters mencatat porsi kelas menengah turun dari 21,5 persen pada 2019 menjadi 17,1 persen pada 2024.
Angka ini bukan sekadar statistik demografi. Ia menjelaskan mengapa banyak bisnis merasa penjualan tidak lagi segarang dulu, mengapa konsumen melakukan trade down, dan mengapa sektor barang tahan lama mudah tersendat.
Kelompok menengah yang turun kelas juga sering terjebak di area abu abu kebijakan.
Mereka tidak miskin sehingga tidak selalu mendapat bantuan, tetapi tidak lagi kuat untuk menjaga konsumsi.
Mereka mulai menunda perawatan kesehatan, mengurangi kualitas pangan, menahan biaya pendidikan tambahan, dan menekan belanja produktif lain yang seharusnya meningkatkan mobilitas sosial.
Dalam jangka panjang, ini bukan sekadar isu konsumsi, tetapi isu kualitas manusia.
Apakah Ini Sementara atau Struktural
Kenaikan tabungan pada menengah ke atas bisa menjadi kebiasaan baru yang sehat.
Pengalaman pandemi membuat banyak rumah tangga mapan menempatkan dana darurat sebagai pos utama. Ketika ketidakpastian global naik turun, menambah tabungan terasa rasional.
Namun pada menengah yang turun kelas, pola ini berbahaya bila menjadi permanen. Jika penahanan konsumsi mereka terjadi karena pendapatan riil tidak mengejar biaya hidup dan kualitas pekerjaan tidak membaik, maka kita menghadapi perubahan struktural: kelas menengah mengecil, kelompok rentan membesar, dan konsumsi jangka panjang melemah.
Itulah sebabnya kebijakan tidak boleh hanya merayakan “tabungan meningkat”. Kita harus bertanya, tabungan siapa yang meningkat, dan tabungan siapa yang habis.
Dampak ke Ekonomi: Stabilitas Naik, Mesin Melambat
Kenaikan tabungan memang bisa memperkuat stabilitas keuangan. Dana yang lebih besar di sistem perbankan memperbaiki likuiditas dan berpotensi menurunkan risiko.
Dalam Survei Konsumen BI Agustus 2025 misalnya, proporsi konsumsi 74,8 persen dan proporsi tabungan 13,7 persen, menggambarkan pola alokasi pendapatan yang dapat berubah sesuai suasana ekonomi.
Pada Desember 2025, proporsi tabungan 14,9 persen menunjukkan kecenderungan menahan dana lebih besar.
Tetapi ada sisi lain. Jika penurunan konsumsi dipimpin oleh kelompok menengah yang turun kelas, maka permintaan domestik melemah dari sumber paling besar.
Sektor yang paling cepat merasakan biasanya ritel non pangan, restoran kelas menengah, hiburan, perjalanan, otomotif, dan barang tahan lama.
Menengah ke atas mungkin menunda upgrade, tetapi menengah turun kelas berhenti membeli. Perbedaan ini penting karena dampak ekonominya berbeda.
Menunda masih menyimpan potensi rebound, berhenti membeli sering menjadi tanda pendapatan yang menyusut.
Jalan Keluar: Jangan Memilih antara Konsumsi dan Tabungan
Rekomendasi kebijakan seharusnya tidak mengadu konsumsi melawan tabungan.


KOMENTAR ANDA