post image
dr Joao Angelo De Sousa Mota
KOMENTAR

Oleh: Dahlan Iskan, Wartawan Senior

SIAPA yang bilang ngambek itu tidak penting? Ngambek itu childish? Tidak dewasa? Tidak profesional?

Joao Mota sudah membuktikan: Ngambek adalah senjata yang ampuh. Nama lengkapnya Joao Angelo de Sousa Mota. Terbukti setelah sukses menggunakan senjata ngambeknya, Joao mendapat apa pun yang ia inginkan. Bahkan yang tidak ia inginkan.

Tentu tidak semua cara ngambek bisa berhasil. Istri saya pernah ngambek tidak mau makan. Saya pura-pura tidak tahu kalau dia ngambek. Akhirnya dia malu-malu makan sendiri.

Joao termasuk orang yang pintar: ngambeknya lewat media. Alasan ngambeknya pun melankolis: ia mengaku sejak kecil diajari moral yang tinggi di agamanya. Harus memegang amanah. Juga harus menjadi orang yang penuh tanggung jawab.

Timor Timur, tempat Joao lahir dan dibesarkan, memang daerah yang amat agamis –ibarat Aceh untuk Islam. Di daerah itu ia saling kenal dengan Prabowo Subianto –saat anggota Kopassus itu bertugas di sana. Lalu bersahabat.

Setelah Timor Timur merdeka menjadi Timor Leste, Joao menjadi pengusaha di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur. Ia bergerak di bidang pertanian. Ia memiliki lahan luas yang ditanami banyak jenis hasil bumi.

Ketika Prabowo terpilih menjadi presiden, Joao mendapat jabatan direktur utama PT Agrinas Pangan Nusantara. Perusahaan itu asalnya BUMN Karya. Yakni PT Yodya Karya. Labanya di tahun 2020 mencapai Rp 30 miliar –setelah kena Covid 19.

Ketika BUMN menjadi Danantara, PT Agrinas Pengan Nusantara menjadi anak perusahaannya. Tapi punya anak terlalu banyak juga repot. PT Agrinas Pangan Nusantara diindukkan ke PT Biro Klasifikasi Indonesia. BKI-lah yang jadi anak Danantara –Agrinas Pengan Nusantara jadi cucunya.

Sebenarnya saya ingin menuliskan Agrinas saja. Biar singkat dan sederhana. Tapi Danantara punya beberapa PT Agrinas. Maka saya harus bersabar untuk selalu menulis panjang namanya: PT Agrinas Pangan Nusantara.

Sedang Agrinas yang satunya mendapat tugas menangani kebun sawit hasil sitaan negara. Luasnya 2,5 juta hektare. Di banyak lokasi. Sebagian belum ada sawitnya.

Saya memuji perubahan BUMN Karya menjadi PT Agrinas Pangan Nusantara. Harus ada BUMN pangan yang besar dan kuat. Toh masih ada empat BUMN Karya lainnya. Yang besar-besar. Adhi Karya, Wijaya Karya, Hutama Karya, dan PP.

Pujian itu kini menjadi ujian bagi saya. Dan saya tidak lulus. Ternyata saya salah. Tahu bahwa itu salah baru dua hari lalu.

PT Agrinas Pangan Nusantara ternyata tidak hanya menjadi jelmaan Yodya Karya. Ternyata ada satu yayasan yang ikut melebur ke dalamnya. Yakni salah satu yayasan di bawah Kementerian Pertahanan.

Saya bukan saja tidak lulus. Saya ternyata juga kuper: belum pernah mendengar ada satu perusahaan hasil merger antara PT dan yayasan.

Maka saya pikir ulang: mungkin bentuknya bukan merger. Mungkin saja yayasan itu ingin membubarkan diri. Lalu menghibahkan seluruh asetnya ke PT Agrinas Pangan Nusantara.

Anda sudah tahu: yayasan itu kalau bubar (atau dibubarkan) memang tidak boleh membagi kekayaannya ke pengurus, anggota, atau ke swasta. Kekayaan itu harus diserahkan ke negara.

Mungkin Agrinas Pangan Nusantara dianggap memenuhi syarat mewakili negara. Toh perushaan itu 100 persen milik negara.

Rasanya itu jalan yang baik. Di masa lalu banyak angkatan memiliki yayasan bisnis. Sejak reformasi yang seperti itu tidak boleh lagi. Tapi bahwa jalan keluarnya lewat penyatuan ke perusahaan milik negara baru dengar sekali ini.

Setelah diangkat menjadi dirut PT Agrinas Pengan Nusantara, Joao mengirim rencana kerja ke Danantara. Saya tidak tahu apa saja rencana kerjanya. Tahu-tahu tersiar berita besar: Joao mengundurkan diri. Ia merasa tidak amanah. Tidak bertanggung jawab. Menjadi dirut tidak kerja apa-apa. Sudah enam bulan menganggur. Tidak ada rencana kerja yang sudah disetujui. Ia pilih mundur.

Bahwa ia secara terbuka mengumumkan sikapnya itu, mungkin karena ia merasa itulah satu-satunya cara curhat ke Presiden Prabowo. Tentu ia ingin mengadukan nasibnya itu langsung ke Prabowo. Ia mungkin tidak menemukan jalan menuju istana. Juga tidak etis, masak dirut anak perusahaan menghadap presiden. Kan bisa secara pribadi? Mungkin ia juga tidak menemukan jalan menuju Hambalang.

Maka ia putuskan: ngambek lewat media saja.

Ampuh.

Tukang khayal seperti Anda mungkin bisa berimajinasi apa saja yang terjadi setelah Presiden Prabowo tahu soal heboh pengunduran diri itu. Tentu presiden tidak bisa seperti saya yang pura-pura tidak tahu bahwa istri sedang ngambek. Pun mungkin saja istrinya dulu tidak pernah ngambek.


Petir India

Sebelumnya

WNI WNI

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway