post image
Politisi PDI Perjuangan mengecam MBG yang menggunakan anggaran pendidikan, Rabu, 25 Februari 2026.
KOMENTAR

Kecaman sejumlah politisi PDI Perjuangan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai bertentangan dengan sikap umum ketua umum partai itu, Megawati Soekarnoputri. 

Tidak seperti yang disampaikan kelompok Adian Napitupulu dalam jumpa pers di Sekolah Partai PDI Perjuangan di Lenteng Agung, Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026, Megawati justru menaruh perhatian besar pada program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu. Bahkan, menurut Mega, anggaran MBG yang hanya sekitar Rp 10 ribu per porsi harus ditingkatkan. 

“Artinya Program MBG 100 persen didukung PDI Perjuangan. Malah kalau dari statement Bu Mega di awal Januari 2025, anggaran MBG harus dinaikkan,” ujar tokoh buruh Arief Poyuono yang kini merupakan Komisaris PT Pelindo. 

Arief Poyuono menjelaskan, anggaran MBG memang berasal dari anggaran pendidikan seperti disebutkan dalam UU 17/2025 tentang APBN 2026 dan Perpres 118/2025 yang menetapkan rincian APBN 2026

Katanya lagi, program MBG di luar negeri dinamakan School Meals Program, yang artinya merupakan program pendidikan untuk meningkatkan gizi anak sekolah agar siap dan mampu menerima dan menyerap pelajaran-pelajaran di sekolah.  

“Jadi MBG itu bisa disebut sebagai bentuk dari prasarana pendidikan yang sah mengunakan anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan. Tidak beda dengan pengadaan alat peraga sekolah,” kata Arief Poyuono kepada redaksi. 

“Anggaran pendidikan sebesar Rp 769 triliun merupakan mandatory spending 20 persen dari APBN dan APBD yang harus dialokasikan murni untuk pendidikan, dan bukan tidak bisa digunakan untuk program MBG,” sambungnya.

Menurutnya, pemenuhan gizi anak penting dalam pendidikan. Gizi sangat diperlukan tubuh karena berfungsi sebagai faktor pertumbuhan dan perkembangan serta penentu tingkat kognitif seseorang. Seorang anak dengan gizi kurang akan mudah mengantuk dan kurang semangat sehingga dapat mempengaruhi proses belajar serta berfikir.

“Nutrisi atau gizi  semakin diakui sebagai infrastruktur dasar pendidikan yang penting untuk perkembangan kognitif, kehadiran di sekolah, dan prestasi akademik. Anak yang lapar tidak dapat belajar secara efektif. Oleh karena itu, mengintegrasikan nutrisi ke dalam sistem sekolah prasyarat untuk keberhasilan pendidikan,” demikian Arief Poyuono.


Balas Sindiran Prof. Uceng, Pigai: Anda Hanya Guru yang “Dibesar-besarkan”

Sebelumnya

Ide Gabung ke Gibran untuk Kudeta Prabowo: Alarm Keras Buat Presiden

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Indonesiana