Apa yang Akan Dibawa Pulang Prabowo?
Lalu, apa yang akan dibawa pulang Prabowo ke Indonesia? Jika semuanya berjalan sesuai rencana, setidaknya ada tiga "buah" yang bisa dipetik:
1. Kesepakatan Dagang yang Konkret: Ini adalah "low-hanging fruit" atau buah yang paling mudah dipetik. Penandatanganan ART akan menjadi pencapaian nyata yang bisa segera dikomunikasikan ke publik sebagai bukti keberhasilan diplomasi ekonomi. Ini akan meredam kritik bahwa kunjungan ini hanya buang-buang waktu dan anggaran.
2. Peran Global yang Lebih Berat: Komitmen untuk mengirimkan hingga 8.000 personel TNI ke Gaza sebagai bagian dari pasukan stabilisasi internasional adalah langkah besar. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya bicara, tetapi siap bertindak. Jika terwujud, ini akan menjadi kontribusi perdamaian paling signifikan sejak misi Garuda di Timur Tengah. Ini adalah "pulang" membawa tanggung jawab, sekaligus prestise.
3. Legitimasi di Mata Domestik: Ini adalah target yang paling halus, namun paling krusial. Prabowo perlu membuktikan kepada publik Indonesia, khususnya kelompok Muslim, bahwa langkahnya bergabung dengan BoP tidak mengkhianati perjuangan Palestina.
Beberapa organisasi Islam besar mulai melunakkan kritik mereka setelah berdialog dengan pemerintah, bergeser dari fokus pada kemerdekaan ke isu keamanan dan kemanusiaan yang lebih luas di Gaza . Jika Prabowo berhasil menunjukkan bahwa suaranya didengar di Washington, maka ia akan pulang dengan membawa legitimasi politik yang kuat bahwa kebijakan luar negerinya dihormati.
Jadi, apakah ini hanya panggung politik? Tidak sepenuhnya. Panggung itu ada, tetapi di atas panggung itulah transaksi dan negosiasi sesungguhnya terjadi. Prabowo pergi ke AS untuk "menjual" citra Indonesia sebagai mitra strategis yang stabil dan negara Muslim yang moderat.
Sebagai imbalannya, ia ingin membawa pulang kontrak dagang untuk menggerakkan ekonomi dan pengaruh politik untuk ikut menentukan nasib Gaza dan Kemerdekaan Palestina.
Kunjungan ini adalah perjalanan di atas tali tipis. Di satu sisi, Prabowo harus memuaskan Trump sebagai tuan rumah dengan menunjukkan komitmen pada inisiatif BoP. Di sisi lain, ia harus pulang dengan kepala tegak, membuktikan bahwa ia tidak menggadaikan prinsip dukungan untuk Palestina demi keuntungan ekonomi jangka pendek.
Jika ia berhasil menyeimbangkan keduanya, maka ini bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa, melainkan masterclass diplomasi di era geopolitik yang semakin transaksional.


KOMENTAR ANDA