Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
SEIRING sejalan dengan endokrologi bukan ilmu membuat hormon tetapi ilmu yang menelaah hormon maka latahomologi bukan ilmu membuat latah tetapi ilmu yang menelaah latah.
Kamus Besar Bahssa Indinesja memaknakan la·tah sebagai (1) menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; (2) berlaku seperti orang gila (misalnya karena kematian orang yang dikasihi); (3) meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain: kita jangan -- terhadap kebudayaan asing; -- mulut mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh (karena marah dan sebagainya); me·la·tah·kan v membuat jadi latah; pe·la·tah n orang yang latah; ke·la·tah·an n perihal latah; keadaan.
Bedasar psikologi sebagai ilmu perilaku, pemaknaan KBBI terhadap kata latah kurang akurat. Kalangan medis mendiagnosa latah sebagai gangguan saraf/perilaku berupa reaksi kaget berlebihan dan spontan terhadap rangsangan mengejutkan, umumnya ditandai dengan meniru kata/gerakan, berteriak, atau mengumpat. Sering terjadi pada wanita paruh baya, latah dianggap sindrom budaya yang tidak disadari, involunter, dan bisa dikurangi dengan terapi wicara atau perilaku.
Jenis-jenis latah berdasarkan gejala:
- Ekolalia: Meniru kata-kata atau frasa yang diucapkan orang lain.
- Ekopraksia: Meniru gerakan tubuh orang lain secara spontan.
- Koprolalia: Mengucapkan kata-kata kotor, kasar, atau tab
- Ekolalia: Meniru kata-kata atau frasa yang diucapkan orang lain.
- Ekopraksia: Meniru gerakan tubuh orang lain secara spontan.
- Koprolalia: Mengucapkan kata-kata kotor, kasar, atau tabu saat kaget.
- Automatic Obedience: Secara spontan mematuhi perintah orang lain saat terkejut.
- u saat kaget.
- Automatic Obedience: Secara spontan mematuhi perintah orang lain saat terkejut.
Faktor dan Penyebab Latah:
- Reaksi Kaget: Pemicu utama, seperti suara keras atau gerakan tiba-tiba.
- Faktor Budaya: Umum ditemukan di Asia Tenggara, terutama Melayu/Indonesia.
- Kondisi Psikologis: Tekanan mental, kecemasan, atau upaya menarik perhatian.
- Gangguan Perkembangan/Saraf: Pada kasus tertentu, bisa dikaitkan dengan demensia atau skizofrenia.
Latah umumnya bukan penyakit berbahaya tetapi bisa menurunkan kualitas hidup dan mengganggu aktivitas. Kondisi ini bisa berulang jika penderita terus dikejutkan.
Sebagai warga Jawa, saya sempat menduga latah hanya ada di pulau Jawa terutama Jakarta sebab saya sering sengaja mengagetkan Mbak Titiek Puspa dengan gertakan “copot!” agar beliau bereaksi latah (lazimnya dengan “eh copot copot”). Ternyata dugaan javasentris saya keliru.
Latah tidak hanya ada di pulau Jawa. Meskipun sangat populer di Indonesia, fenomena ini ditemukan di berbagai wilayah dan budaya lain dengan nama yang berbeda-beda.
Berikut adalah persebaran fenomena serupa latah di berbagai belahan dunia:
- Asia Tenggara (Melayu): Latah paling banyak dilaporkan di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Di Filipina, kondisi serupa dikenal dengan nama mali-mali.
- Asia Timur: Di Jepang, suku Ainu memiliki fenomena serupa yang disebut imo. Di Thailand, dikenal dengan nama bahtsche.
- Eropa dan Amerika: Di Maine, Amerika Serikat, dan Quebec, Kanada, terdapat kondisi yang sangat mirip yang disebut Jumping Frenchmen of Maine.
- Rusia/ Siberia: Suku-suku asli di Siberia memiliki fenomena serupa yang disebut myriachit.
- Afrika: Kondisi serupa juga pernah dilaporkan terjadi pada suku Bantu di Afrika.
Latah sering dianggap sebagai culture-bound syndrome (sindrom terkait kebudayaan) karena frekuensi kejadiannya sangat tinggi di masyarakat Melayu dan Indonesia dibandingkan wilayah lain.
Di Indonesia sendiri, latah tersebar di berbagai pulau, tidak terbatas di Jawa saja, karena akar kebudayaan yang kuat dalam masyarakat Melayu secara umum sudah tersebar ke seluruh pelosok Indonesia.


KOMENTAR ANDA