Manusia tidak terhubung oleh kedekatan semata, tetapi juga oleh kepercayaan yang membuat jarak menjadi tidak berarti.
Oleh: Adhie M. Massardi
MANUSIA tidak pernah benar-benar hidup sendiri.
Sejak awal, kehidupannya selalu terjalin dalam hubungan dengan manusia lain. Keluarga, kelompok, komunitas— semuanya membentuk jaringan yang menopang keberadaannya.
Namun jaringan ini tidak berdiri hanya karena kedekatan fisik. Ia tidak terbentuk hanya karena kebutuhan.
Ia bertahan karena sesuatu yang lebih mendasar: kepercayaan.
Trust adalah benang tak terlihat yang menghubungkan manusia satu sama lain.
Ia bukan institusi, bukan pula aturan tertulis.
Namun tanpanya, tidak ada hubungan yang benar-benar hidup.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terus-menerus mengambil keputusan berdasarkan trust.
Ia mempercayai bahwa orang lain akan menepati janji. Ia percaya bahwa kata-kata memiliki makna. Ia percaya bahwa tindakan orang lain tidak selalu mengancam dirinya.
Kepercayaan-kepercayaan kecil ini membentuk dasar dari seluruh interaksi sosial.
Tanpa trust, setiap hubungan akan menjadi berat.
Setiap kata harus diverifikasi. Setiap tindakan harus dicurigai. Setiap interaksi membutuhkan perlindungan.
Dalam keadaan seperti itu, energi manusia habis bukan untuk membangun, tetapi untuk bertahan.
Dengan trust, hubungan menjadi ringan.
Komunikasi menjadi lancar. Kerja sama menjadi mungkin. Dan manusia dapat melangkah melampaui kepentingan dirinya sendiri.
Trust menciptakan ruang.
Ruang di mana manusia dapat bergerak tanpa terus-menerus dibayangi oleh ketakutan.
Ruang ini sangat penting dalam kehidupan sosial.
Karena hanya di dalam ruang yang dipenuhi trust manusia dapat membangun sesuatu bersama.
Dari percakapan sederhana, hingga kerja sama yang kompleks— semuanya membutuhkan kepercayaan sebagai dasar.
Seiring waktu, hubungan-hubungan kecil ini mulai membentuk pola.
Dari individu ke individu, lalu ke kelompok, lalu ke jaringan yang lebih luas.




KOMENTAR ANDA