Oleh: Chappy Hakim, Pusat Studi Air Power Indonesia
KABAR duka menyelimuti bangsa Indonesia. Salah satu intelektual dan birokrat terbaik yang pernah dimiliki negeri ini, Prof. Dr. Juwono Sudarsono, telah berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 13.45 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Pria yang akrab dikenal sebagai figur cendekiawan dalam pemerintahan itu tutup usia pada umur 84 tahun.
Saya pribadi mengenal beliau sebagai salah satu senior mentor yang banyak membimbing dan memberikan arahan positif. Beliau bersama Almarhum Prof Priyatna Abdurrasjid sangat menaruh perhatian besar terhadap banyak tulisan, buku dan pemikiran saya tentang kedaulatan negara di udara. Keduanya almarhum selalu mendorong untuk menuangkan semua pemikiran saya itu dalam sebuah format disertasi.
Bagi mereka yang pernah bekerja sama atau sekadar berinteraksi dengannya, kepergian Juwono Sudarsono pasti akan meninggalkan duka yang mendalam. Sosoknya dikenal bukan hanya karena kecerdasan akademisnya yang luar biasa, tetapi terutama karena kerendahan hatinya. Di tengah hiruk-pikuk kekuasaan, ia tetap tampil sebagai pejabat yang santun, mendengar, dan tidak pernah kehilangan sentuhan kemanusiaan. Ia adalah bukti bahwa seorang pemimpin bisa menjadi kuat tanpa harus kehilangan kerendahan hati.
Beliau rendah hati tetapi sangat kuat memegang prinsip. Salah satu sikapnya yang sampai sekarang masih teringat segar dikepala saya adalah saat beliau merespon “panggilan” dari DPR yang tersiar di berbagai media. Pak Juwono pernah berkata tegas bila saya di panggil DPR saya tidak akan datang. Bila di undang sebagai Menteri Pertahanan, maka dengan senang hati saya akan memenuhinya. Itulah Pak Juwono Sudarsono.
Dari Akademisi Mengukir Sejarah
Lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 5 Maret 1942, Juwono adalah putra dari Sudarsono, mantan Menteri Dalam Negeri di era awal kemerdekaan. Darah kepemimpinan memang mengalir dalam dirinya, namun jalan yang ia pilih tidak serta-merta praktis.
Ia memulai kariernya sebagai akademisi murni. Menyelesaikan studi di Universitas Indonesia, kemudian lanjut mengasah pengetahuannya di institusi-institusi bergengsi dunia, antara lain The Institute of Social Studies di Den Haag, University of California Berkeley, dan meraih gelar doktor (Ph.D.) dari London School of Economics and Political Science (LSE). Ia menjadi guru besar di almamaternya, FISIP UI, serta sempat mengajar di Columbia University, New York.
Baginya, pemikiran adalah senjata utama dalam membangun bangsa. Juwono mencatatkan nama dalam sejarah sebagai Menteri Pertahanan sipil pertama di Indonesia. Selama hampir 40 tahun sebelum dirinya, kursi Kementerian Pertahanan selalu dipegang oleh perwira tinggi militer.
Namun, ketika kepercayaan diberikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 1999, dan kemudian kembali oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada periode 2004-2009, Juwono membuktikan bahwa seorang sipil mampu memimpin sektor pertahanan dengan kapasitas dan integritas tinggi.
Kariernya di pemerintahan tidak hanya tercatat di situ. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup di akhir era Presiden Soeharto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Presiden B.J. Habibie, serta Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Inggris di era Presiden Megawati Soekarnoputri.
Warisan Pemikiran yang Abadi
Lebih dari sekadar jabatan, Juwono mewariskan sebuah paradigma. Ia menekankan pentingnya konsep pertahanan non-militer yang mencakup penguatan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, dan keadilan sosial sebagai pilar ketahanan nasional . Dalam setiap kebijakannya, ia selalu menjembatani dunia akademis dengan praktik birokrasi, menjadikannya salah satu arsitek reformasi sektor pertahanan yang paling berpengaruh di era reformasi.
Penghormatan Terakhir
Keluarga besar dan negara akan memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Jenazah akan disemayamkan di Gedung Urip Sumoharjo, Kementerian Pertahanan RI, pada hari Minggu, 29 Maret 2026. Selanjutnya, almarhum akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan, sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian seumur hidupnya kepada bangsa dan negara.
Selamat jalan, Prof. Juwono Sudarsono. Gelar Bintang Mahaputra Adipradana dan Bintang Jasa Utama yang disematkan negara mungkin menjadi bukti jasa seorang Juwono Sudarsano, namun bagi mereka yang mengenalnya dengan baik, kerendahan hati dan keteladanan intelektualnyalah yang akan selalu dikenang.
Selamat jalan, Profesor. Terima kasih telah menjadi teladan bahwa kekuasaan tidak pernah merenggut ketulusan dan kecendekiawanan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.”




KOMENTAR ANDA