post image
Ilustrasi
KOMENTAR

Pasar modal adalah cermin dari sentimen dan ekspektasi, bukan selalu refleksi akurat dari realitas ekonomi. 

Oleh: Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific

PASAR modal Indonesia kembali merasakan getaran geopolitik global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok nyaris 2 persen pada perdagangan kemarin (Kamis, 26 Maret 2026), sebuah koreksi tajam yang mencerminkan kegelisahan investor terhadap ketidakpastian negosiasi konflik Amerika Serikat (bersama Israel) dan Iran. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa. Ia menunjukkan bagaimana pasar berkembang seperti Indonesia tetap rentan terhadap volatilitas eksternal, meski fundamental ekonomi domestik menunjukkan ketahanan yang memadai.
 
Pertanyaannya kemudian: sejauh mana guncangan eksternal ini dapat menggerogoti kepercayaan investor terhadap ekonomi domestik? Dan apakah koreksi pasar saat ini benar-benar mencerminkan kelemahan struktural, ataukah sekadar reaksi emosional yang akan segera terkoreksi?
 
Penurunan IHSG yang mencapai 1,89 persen dalam satu sesi perdagangan merupakan sinyal penting tentang sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik. Eskalasi ketegangan AS (Israel)-Iran—yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global dari Selat Hormuz—memicu sentimen risk-off di kalangan investor. Dana asing, yang secara historis cepat keluar dari pasar emerging saat ketidakpastian meningkat, mencatat arus keluar neto yang signifikan.
 
Namun, pembacaan mendalam atas fenomena ini memerlukan konteks yang lebih luas. Menurut data Bank Indonesia, cadangan devisa per Februari 2026 masih kokoh di level 145 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Inflasi terkendali di kisaran 2,5 persen year-on-year, jauh di bawah target atas BI sebesar 4 persen. Bahkan, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 tercatat 5,1 persen, didorong oleh konsumsi domestik dan investasi infrastruktur yang solid.
 
Yang menarik, koreksi pasar kali ini tidak disertai pelemahan rupiah yang dramatis. Nilai tukar bertahan di zona 15.800-15.900 per dolar AS, menunjukkan bahwa intervensi Bank Indonesia dan daya tahan fundamental ekonomi masih bekerja efektif. Ini berbeda dengan episode krisis 2018 atau bahkan volatilitas pandemi 2020, ketika rupiah tertekan hingga menembus 16.500.
 
Sektor yang paling terdampak adalah energi dan komoditas—wajar mengingat sektornya paling sensitif terhadap harga minyak dan risiko supply chain. Namun, sektor perbankan dan konsumer tetap relatif stabil, mengindikasikan bahwa investor masih percaya pada daya beli domestik dan kesehatan sistem keuangan.
 
Sebaiknya bagaimana?
 
Pertama, otoritas moneter perlu memperkuat komunikasi kebijakan untuk meredam ekspektasi negatif. Bank Indonesia telah menunjukkan kredibilitas dalam menjaga stabilitas, namun transparansi mengenai strategi mitigasi risiko eksternal harus ditingkatkan. Forward guidance yang jelas akan membantu mengurangi volatilitas berlebihan.
 
Kedua, investor domestik—baik institusi maupun ritel—perlu melihat koreksi ini sebagai peluang akumulasi, bukan momen panik. Valuasi IHSG saat ini, dengan price-to-earnings ratio sekitar 14-15x, masih menarik dibandingkan dengan rata-rata historis. Sektor perbankan dengan kapitalisasi yang kuat dan sektor konsumer dengan basis pasar domestik yang dalam layak menjadi pilihan strategis.
 
Ketiga, pemerintah harus terus mendorong diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi. Ketergantungan pada ekspor komoditas membuat kita rentan terhadap shock eksternal. Penguatan industri manufaktur bernilai tambah tinggi dan ekonomi digital perlu dipercepat agar struktur ekonomi lebih resilient.
 
Penutup
 
Pasar modal adalah cermin dari sentimen dan ekspektasi, bukan selalu refleksi akurat dari realitas ekonomi. Koreksi IHSG akibat ketegangan AS-Iran mengingatkan kita bahwa Indonesia tidak kebal terhadap guncangan global. Namun, membandingkan ketahanan ekonomi kita hari ini dengan satu dekade lalu, jelas ada kemajuan signifikan dalam membangun fondasi yang kokoh.
 
Ketidakpastian geopolitik Timur Tengah mungkin akan berlanjut, tetapi ekonomi Indonesia memiliki modal kuat untuk melewatinya: cadangan devisa memadai, inflasi terkendali, dan konsumsi domestik yang tangguh. Investor yang cerdas akan melihat turbulensi ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk masuk pada valuasi yang lebih menarik. Sebab pada akhirnya, pasar selalu kembali pada fundamental—dan fundamental kita, sejatinya, hingga saat ini masih sehat.
 
Disclaimer: Artikel ini merupakan opini penulis dan tidak merepresentasikan rekomendasi investasi.


Jasa Armada Indonesia Catat Kinerja Keuangan 2025 Positif

Sebelumnya

Lebaran, Mesin Domestik di Tengah Badai Global

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekbis